Upacara Adat “Barapen” Khas Papua

Pesta Bakar Batu mempunyai makna tradisi bersyukur dan merupakan sebuah ritual tradisional Papua yang dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur atas berkat yang melimpah, pernikahan, penyambutan tamu agung, dan juga sebagai upacara kematian. Upacara barapen juga membuktikan adanya perdamaian antar masyarakat setelah terjadi perang suku.

Sesuai dengan namanya, dalam memasak dan mengolah makanan untuk pesta tersebut, suku-suku di Papua menggunakan metode bakar batu. Tiap daerah dan suku di kawasan Lembah Baliem memiliki istilah sendiri untuk merujuk kata bakar batu. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan gapii atau ‘mogo gapii‘, masyarakat Wamena menyebutnya kit oba isago, sedangkan masyarakat Biak menyebutnya dengan barapen. Namun tampaknya barapen menjadi istilah yang paling umum digunakan.

Pesta Bakar Batu juga merupakan ajang untuk berkumpul bagi warga. Dalam pesta ini akan terlihat betapa tingginya solidaritas dan kebersamaan masyarakat Papua. Namun dalam Festival Prakarsa Rakyat yang mengumpulkan simpul-simpul perkumpulan Praxis dari seluruh Indonesia ini, tak hanya masyarakat Papua yang bahu membahu tetapi juga masyarakat desa Mojowarno Jombang dan simpul-simpul dari Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Jogja hingga Bali. Prosesi Barapen digunakan untuk menonjolkan sekaligus mengingatkan bahwa sikap gotong royong yang telah mengakar di bumi Indonesia kini nyaris punah dan harus dibumikan kembali.

Max Binur, perwakilan kelompok yang jauh-jauh datang dari Papua mengatakan, prosesi Pesta Bakar Batu terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, bakar babi, dan makan bersama. “Tahap persiapan diawali dengan pencarian kayu bakar dan batu yang akan dipergunakan untuk memasak. Batu dan kayu bakar disusun dengan urutan pada bagian paling bawah ditata batu-batu berukuran besar, di atasnya ditutupi dengan kayu bakar, kemudian ditata lagi batuan yang ukurannya lebih kecil, dan seterusnya hingga bagian teratas ditutupi dengan kayu. Kemudian tumpukan tersebut dibakar hingga kayu habis terbakar dan batuan menjadi panas,” katanya.

Sementara itu, menurut Max, warga yang lainnya mempersiapkan sebuah lubang yang besarnya berdasarkan pada banyaknya jumlah makanan yang akan dimasak. Dasar lubang itu kemudian dilapisi dengan alang-alang dan daun pisang. Dengan menggunakan jepit kayu khusus yang disebut apando, batu-batu panas itu disusun di atas daun-daunan. Setelah itu kemudian dilapisi lagi dengan alang-alang. Di atas alang-alang kemudian dimasukan daging babi, ayam, atau kambing. Namun karena di Jombang mayoritas penduduknya adalah islam, maka yang digunakan adalah daging kambing dan daging ayam. Setelah disusun, kemudian ditutup lagi dengan dedaunan. Di atas dedaunan ini kemudian ditutup lagi dengan batu membara, dan dilapisi lagi dengan rerumputan yang tebal.

Setelah itu, hipere (ubi jalar) disusun di atasnya. Lapisan berikutnya adalah alang-alang yang ditimbun lagi dengan batu membara. Kemudian sayuran berupa iprika atau daun hipere, tirubug (daun singkong), kopae (daun pepaya), nahampun (labu parang), dan towabug atau hopak (jagung) diletakkan di atasnya. Tidak cukup hanya umbi-umbian, kadang masakan itu akan ditambah dengan potongan barugum (buah). Selanjutnya lubang itu ditimbun lagi dengan rumput dan batu membara. Teratas diletakkan daun pisang yang ditaburi tanah sebagai penahan agar panas dari batu tidak menguap.

Sembari menunggu, kawan-kawan Papua yang sudah bersiap dengan pakaian tradisionalnya dan melukis dirinya dengan cat berwarna putih mulai menari diiringi musik khas Papua dengan mengelilingi barapen sembari menunggu makanan matang.

Sekitar 60 hingga 90 menit masakan itu sudah matang. Setelah matang, rumput akan dibuka dan makanan yang ada di dalamnya mulai dikeluarkan satu persatu, kemudian dihamparkan di atas rerumputan.

Syahdan, pesta Bakar Batu merupakan acara yang paling dinantikan oleh warga suku-suku pedalaman Papua. Demi mengikuti pesta ini mereka rela menelantarkan ladang dangan tidak bekerja selama berhari-hari. Selain itu, mereka juga bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk membiayai pesta ini. Pesta ini sering dilaksanakan di kawasan Lembah Baliem, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Indonesia.

Namun, kepastian titik lokasi dilaksanakannya ini tidak menentu. Jika sebagai upacara kematian maupun pernikahan, pesta ini akan dilaksanakan di rumah warga yang memiliki hajatan. Namun, bila upacara ini sebagai ucapan syukur atau simbol perdamaian biasanya akan dilaksanakan di tengah lapangan besar.

Tradisi Balimau di Sumatera Barat Dulu dan Kini

Ada hal unik ketika beberapa hari menjelang Ramadhan di Sumatra Barat. Sehari atau dua hari menjelang memasuki Ramadhan, tempat-tempat pemandian ramai sekali dikunjungi warga. Tradisi ini disebut dengan istilah “balimau”.

Secara harfiah, balimau berarti mandi dengan menggunakan limau (jeruk nipis). Zaman dahulu, warga Minangkabau mandi dengan menggunakan jeruk nipis sebagai pengganti fungsi sabun. Balimau berarti penekanan makna bahwa ia mandi benar-benar bersih. Itulah yang kemudian dikaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan batin menjelang melaksanakan ibadah puasa.

Tradisi balimau dipercaya sudah ada sejak abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda. Awalnya, tradisi balimau merupakan sebuah ritual di mana pada hari terakhir bulan Syaban seseorang diharuskan mandi keramas dengan limau. Setelah balimau atau bakasai tersebut, barulah seseorang berniat untuk berpuasa Ramadhan esok harinya.

Balimau biasanya dilakukan di tempat pemandian umum. Karena zaman dahulu, memang warga Minang melakukan aktivitas di tempat pemandian seperti disungai (batang aie), danau atau pincuran. Zaman dahulu tak ada kamar mandi di rumah.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berjalan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Mulai muncul perbedaan pendapat apakah kebersihan lahiriyah berdampak pada kebersihan ruhani. Namun secara umum, esensi balimau sebagai simbol untuk mempersiapkan diri dengan kebersihan ruhani pun bergeser.

Saat ini, balimau lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian. Bahkan, para muda-mudi menjadikan momen ini sebagai ajang hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja-remaja, balimau hanya tinggal sebagai simbol. Balimau dijadikan alasan agar mendapatkan izin dari orang tua mereka untuk keluar bertamasya.

Jadi, wajar saja saat ini tradisi balimau yang menyimpang banyak ditentang para pemuka agama dan ulama di Sumatra Barat. Tradisi balimau yang salah kaprah bagi muda-mudi ini dikhawatirkan menjadi bumerang bagi generasi muda. Melihat kondisi saat ini, balimau bukan dimaknai sebagai mandi pertobatan, tetapi sebagai ajang maksiat bagi muda-mudi. (edwar)

Upacara Adat “Balimau” khas Minangkabau

Kawasan Lubuk Minturun populer dalam tradisi balimau di Padang

Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau dan biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Diwariskan secara turun temurun, tradisi ini dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.

Latar belakang dari balimau adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Secara lahir, mensucikan diri adalah mandi yang bersih. Zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, wilayah yang kekurangan air, atau bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab yang lain. Saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.

Penyimpangan

Dalam tradisi ini sebetulnya perempuan tidak perlu mandi di sungai agar tidak bercampur dengan lelaki, tetapi bisa di sumur umum. Namun dalam perkembangan selanjutnya kebiasaan ini kemudian berkembang di masyarakat secara tak agamis lagi. Mandi bersama dilakukan di sungai dengan alasan untuk berekreasi sehingga bercampur antara lelaki dan perempuan. Kebiasaan baru inilah yang bertentangan dengan agama Islam, sedangkan pada dasarnya tradisi balimau tidak demikian.

Badudus: Upacara Tolak Bala Adat Banjar

1. Asal-usul

Secara khusus, Badudus bisa dilaksanakan untuk tiga subyek yang berbeda, meski dengan tujuan yang kurang lebih sama. Pertama, pelaksanaan Badudus untuk peralihan status calon pengantin dalam rangkaian upacara pernikahan adat Banjar, atau yang sering disebut dengan istilah Mandi Pengantin. Tujuan pelaksanaan ritual Mandi Pengantin adalah untuk membentengi pengantin dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan. Jika tidak dipersiapkan penangkalnya, dikhawatirkan kedua mempelai yang hendak melangsungkan pernikahan akan terserang penyakit dan kehidupan rumah-tangganya kelak akan digoyahkan oleh berbagai macam rintangan (M. Suriansyah Ideham, et al., 2007).

Kedua, ritual Badudus yang dilakukan oleh orang yang akan menerima gelar kehormatan. Misalnya sebagai bagian dalam upacara penobatan raja atau upacara pemberian anugerah kebangsawanan dari kerajaan kepada orang-orang yang telah ditentukan. Maksud dilaksanakannya ritual Badudus dalam konteks ini adalah sebagai pelindung agar raja yang akan dinobatkan terbebas dari segala macam penyakit, baik lahir maupun batin, dan dapat menjalankan pemerintahan atau tugasnya dengan baik, bersih dari tindakan yang tercela, dapat berlaku adil, dan memikirkan kepentingan rakyat banyak.

Asal-muasal munculnya ritual Badudus ditengarai berasal dari tradisi yang berlaku pada zaman Kerajaan Negara Dipa (sekitar tahun 1355 Masehi) dan Kerajaan Negara Daha (sekitar tahun 1448 M). Dua kerajaan yang muncul secara berurutan ini merupakan bagian dari mata rantai sejarah Kesultanan Banjar yang baru didirikan pada tahun 1526 M. Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Negara Daha adalah kepanjangan tangan dari orang-orang Kerajaan Majapahit yang datang ke tanah Banjar dalam rangka pelaksanaan Ekspedisi Pamalayu di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada (Ira Mentayani, 2008).

Masyarakat adat Banjar meyakini bahwa ritual Badudus harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh Kerajaan Negara Dipa, antara lain Empu Jatmika (panglima Kerajaan Majapahit yang memprakarasi berdirinya Kerajaan Negara Dipa di tanah Banjar), Lambung Mangkurat (putra Empu Jatmika sekaligus panglima Kerajaan Negara Dipa), dan lain-lainnya. Masyarakat lokal percaya bahwa leluhur mereka itu masih hidup di alam gaib dan sewaktu-waktu dapat diundang dalam acara-acara ritual tertentu. Kepercayaan ini dianut secara turun-temurun, dan jika tidak dilaksanakan, maka diyakini dapat menimbulkan malapetaka.

Pada zaman dahulu, Badudus menjadi ritual yang khusus dilakukan hanya pada saat acara penobatan seorang raja. Ritual ini hanya boleh dilakukan oleh para keturunan raja saja, yakni orang yang masih memiliki garis darah dengan raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Negara Dipa maupun Kerajaan Negara Daha. Mereka yang boleh menghadiri acara Badudus pun sangat terbatas, yakni hanya untuk kalangan keluarga kerajaan saja. Ketentuan ini berlaku hingga ketika kedudukan Kesultanan Banjar dihapuskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1860.

Setelah tidak adanya kerajaan di tanah Banjar, acara Badudus tetap dilaksanakan meski dalam konteks yang berbeda, yakni sebagai rangkaian upacara perkawinan adat Banjar dan upacara kehamilan pertama. Pada tahun 2010, upaya-upaya untuk menghidupkan kembali Kesultanan Banjar yang sempat mati suri selama lebih dari 100 tahun sudah dapat diwujudkan dengan dinobatkannya Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar di Martapura, Kalimantan Selatan (Iswara N. Raditya, dalam www.MelayuOnline.com). Kini upacara Badudus kembali dilaksanakan sebagai salah satu tahap dalam rangkaian upacara penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar.

2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Ritual adat Badudus dilangsungkan di tempat-tempat yang telah ditentukan, yaitu di dalam rumah atau di halaman rumah. Badudus juga bisa dilaksanakan di tempat tertentu yang telah dibuat bangunan berbentuk segi empat, di mana masing-masing sudut tiangnya ditanami tebu. Tempat yang akan digunakan untuk pelaksanaan ritual Badudus hendaknya diberi atap dan batas berupa kain berwarna kuning yang mengelilingi area utama. Sedangkan untuk alasnya, bisa menggunakan tikar atau karpet berwarna (Arijadi, 2010). Tempat dilaksanakannya ritual Badudus ini disebut pagar mayang.

Dalam prosesi awal penobatan raja, ritual Badudus dilaksanakan dua hari sebelum acara puncak penabalan. Sebagai contoh adalah dalam acara penobatan Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar, di mana ritual Badudus diselenggarakan pada tanggal 10 Desember 2010, sedangkan upacara penobatan dilakukan dua hari setelahnya, yakni pada tanggal 12 Desember 2010.

Apabila dilangsungkan sebagai rangkaian dalam prosesi pernikahan adat Banjar, ritual Badudus dilakukan pada tiga hari sebelum hari perkawinan. Waktu pelaksanaan ritual Badudus adalah pada sore atau malam hari (Ideham, et al., 2007). Sedangkan dalam konteks upacara untuk memperingati kehamilan pertama, ritual Badudus dilakukan ketika usia kehamilan menginjak 7 bulan.

3. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan-bahan yang harus disiapkan dalam pelaksanaan ritual Badudus adalah sebagai berikut:

Piduduk dan sasangan:

  • Beras putih bersih.
  • Pisau.
  • Nyiur dan gula habang.
  • Telur ayam kampung.
  • Jarum dan benang.
  • Rokok.Perlengkapan dan Bahan Lainnya:
  • Dadampar, yaitu tempat duduk (untuk duduk bersimpuh) bertingkat dua yang dilapisi kain satin atau bahan lainnya yang berwarna kuning (http://kerajaanbanjar.wordpress.com).
  • Sasanggan Kacil, untuk bahan lulur, yakni berupa lulur putih yang dibuat dari tepung beras dan sedikit kunyit.
  • Mangkuk Kaca, untuk wadah bahan keramas. Pada zaman dulu, bahan keramas menggunakan langir yang sudah dihaluskan, namun untuk sekarang ini bahan keramas bisa menggunakan shampo.
  • Gelas Dandang atau Baskom Kanal, untuk tempat menampung air bunga 7 rupa.
  • Poci atau teko, untuk tempat menampung air yang digunakan sewaktu berdoa.
  • Tempayan atau guci, untuk tempat menampung air mayang, yang terdiri dari mayang mengurai dan mayang terbungkus.
  • Tempayan atau guci lagi untuk tempat menampung air bersih.

Seluruh perlengkapan dan bahan di atas disusun rapi sesuai dengan urut-urutan rangkaian acara dan semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam pagar mayang. Selain itu, terdapat juga perlengkapan dan bahan yang tidak dimasukkan ke dalam pagar mayang, yaitu dua tampah kuningan yang masing-masing berisi Gunung Emas dan Gunung Perak, serta perlengkapan lain yang digunakan selama prosesi Badudus. Gunung Emas terdiri dari ketan lemak yang dihiasi dengan wajik, sedangkan Gunung Perak terdiri dari ketan lemak yang dihiasi dengan telur dadar

Sebelum ritual Badudus dilaksanakan, terlebih dulu harus dilakukan beberapa langkah-langkah persiapan beserta peralatannya, yakni sebagai berikut:

  • Pembuatan panggung balai dengan ukuran 4×4 meter dan menghadap ke arah matahari terbit.
  • Pemasangan tiang balai dengan perincian: 4 (empat) tiang batang bambu, dan 1 (satu) tiang dari potongan bambu kuning.
  • Pemasangan batang manisan (tebu) dan batang tibarau yang didirikan di tiap-tiap tiang bambu kuning.
  • Penyediaan 4 (empat) buah payung, masing-masing payung ditempatkan di puncak tiang bambu kuning.
  • Pemasangan atap atau langit-langit dengan kain berwarna kuning (warna khas Melayu). Sudut-sudut kain diikatkan di bawah payung.
  • Pemasangan tali lawai kuning dengan tiga tingkat yang menjadi penghubung antar tiang.
  • Pemasangan hiasan janur kuning dengan anyaman khas Banjar, dan kemudian dikaitkan pada tiang pintu.
  • Pemasangan alas dengan tikar atau karpet berwarna, ditempatkan pada tiga undakan.
  • Pemasangan daun penangkal, yakni berupa daun linjuang, kambat, ketapi, dan jaruju, yang dipasang di 4 (empat) tiang bambu kuning.
  • Penggantungan wadai-wadaian.
  • Penggantungan kembang-kembang mayang pada tali lawai.
  • Mempersiapkan perlengkapan yang akan digunakan di dalam balai padudusan, yaitu nampan yang beralaskan kain kuning dan 8 (delapan) guci yang berisi 8 (delapan) macam air (7 air sumur atau sungai dan 1 air yasin untuk didoakan).
  • Mempersiapkan tajau banyu, yakni guci yang berisi air bersih untuk berbilas.
  • Mempersiapkan guci yang berisi air rendaman bunga mawar, bunga melati, bunga cempaka, 1 (satu) ikat dedaunan (daun linjuang, kambat, ketapi, dan mayang maurai).
  • Mempersiapkan nyiur anum atau kelapa muda yang sudah dipangkas ujungnya.
  • Mempersiapkan mangkuk untuk bahan keramas atau shampo, mangkuk untuk bahan lulur, dan mangkuk untuk tapung tawar.
  • Mempersiapkan tapih untuk berganti pakaian mandi, handuk, dan baju untuk dikenakan sehabis mandi

Uapacara Seren Taun Adat Sunda

Upacara Adat Seren Taun merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat sunda pada saat panen padi setiap tahu. dengan penuh khidmat dan semarak upacara adat ini berlangsung di berbagai daerah adat sunda. Upacara adat ini mempunyai simbol atau ungkapan rasa syukur masyarakat atas apa yang telah dilakukan dan diraihnya selama bercocok tanam khususnya tanaman padi. Selain digelar dengan khidmat dan sakral, upacara adat Seren Taunpun digelar dengan meriha, kemeriahan upacar ini dengan diikuti berbagai kalangan masyarakat sekitar juga masyarakat dari beberapa daerah di Jawa Barat, bahkan ada juga pengunjung dari manca Negara.

Dalam upacara ini yang menjadi objek utama adalah padi, sebab padi merupakan imbol kemakmuran dan makanan poko sehari-hari bagi masyarakat sunda, selain itu anda juga akan menyaksikan berbagai kesenian dan pertunjukkan khas sunda yang ditampilkan diantaranya :

Tari Buyung

Tari ini merupakan tarian adat sunda yang mencerminkan masyarakat sunda dalam mengambil air

Damar Sewu

Sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat seren taun di beberapa daerah di Jawa Barat. Helaran ini Merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial.

Dalam rangkaian pelaksanaan upacara ini tergantung daerah masing-masing, namun pada fungsi dan tujuannya sama yaitu Sebagai ungkapan rasa syukur, rasa hormat serta terimakasih kepada Yang Maha Kuasa panen yang telah  diperoleh, sebab upacara Seren Taun ini digelar dibeberapa Desa adat sunda, beberapa desa adat sunda yang menggelar upara seren taun setiap tahun yaitu :

  • Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
  • Kasepuhan Banten Kidul, Desa Ciptagelar, Cisolok, Kabupaten Sukabumi
  • Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor
  • Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten
  • Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya.

Dengan waktu yang berbeda menurut perhitungan dan kebiasaan di daerah masing-masing, salah satunya di Desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat, upacara ini digelar setiap tanggal 22 bulan Rayagung (Dzulhijjah) perhitungan hijriyah.