Upacara Adat “Badirian Pengantin Tebu” khas Jawa Barat

Upacara Adat Badirian Pengantin Tebu merupakan salah satu upacara adat yang biasa dilaksanakan oleh salah satu satu masyarakat di Jawa Barat, tepatnya di daerah Pabrik Gula Jatiwangi dan Kadipaten Kabupaten Majalengka. Upacara adat ini biasa diselenggarakan pada Bulan April/Mei Sebagai rasa syukur atas hasil penanaman tebu yang diperoleh, selain itu sebgai simbol permohonan berkah dan keselamatan untuk memproses (menggiling) tebu menjadi gula, dan mohon berhasil lagi di masa mendatang. Dalam melaksanakan upacara adat ini atau lebih popular di kalangan masyarakat dengan panggilan “Pesta kebun tebu”i tampaknya telah melekat dan menjadi memori tersendiri bagi petani tebu dan masyarakat sekitar Pabrik Gula. Selain dimeriahkan oleh para karyawan pabrik gula dan masyarakat setempat, pest atau upacara adat ini pula dimeriahkan oleh puluhan pedagang mainan, pakaian, dan makanan yang menggelar dagangannya, baik di sekitar pabrik hingga ke halaman dalam pabrik. Tidak hanya itu, Berbagai jajan tradisionalpun ikut digelar untuk dijual. Selain itu pentas dangdutpun digelar membuat badirian selalu menimbulkan kemeriahan yang melegakan. Pada hari-hari seperti ini, citra pabrik yang biasanya angker untuk sementara tersingkir. Antara karyawan dan warga masyarakat sesaat membaur. Namun adakalanya pesta atau upacara adat ini yang syarat akan nilai budaya, semakin hari semakin pudar seiring dengan perkembangan zaman. Semoga upacara / pesta ini dan yang lainnya yang syarat akan nilai budaya dan kebersamaan untuk meningkatkan persatuan di seluruh daerah dapat terus dilestarikan dan dijungjung tingi sebagai salah satu budaya warisan bangsa.

Upacara Adat “Menculik” Gadis khas Lombok

Semua orang tentu setuju jika menculik seorang gadis merupakan sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Bahkan perbuatan ini bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar hukum dan bisa dipidanakan. Hal inilah yang membuat para pemuda berpikir jutaan kali untuk menculik seorang gadis. Tapi, di Lombok perbuatan menculik gadis ini legal dan dibenarkan. Anda tentu bertanya kenapa bisa terjadi seperti ini? Apa memang zaman sudah terbalik? Zaman memang sudah terbalik, tapi untuk hal yang satu ini memang seperti itu adanya.

Di Lombok, khususnya suku sasak terdapat tradisi “menculik” gadis. Tradisi ini termasuk budaya di Lombok yang masih dijaga hingga sekarang. Namun, tidak sembarangan gadis yang bisa diculik. Gadis yang akan diculik tentu harus gadis yang memang mencintai laki-laki yang akan menculiknya. Selain itu, gadis yang diculik tidak lantas dibawa ke rumah laki-laki tersebut, melainkan dititipkan di rumah kerabat laki-laki. Jika sudah satu hari Si gadis bermalam di rumah kerabat laki-laki tersebut, pihak keluarga akan memberitahukan pada pihak keluarga Si gadis bahwa mereka telah menculik Si gadis dan disembunyikan di suatu tempat. Pemberitahuan ini disebut Nyelabar. Selanjutnya kedua keluarga akan bertemu untuk membicarakan tahap selanjutnya yaitu pernikahan antara keduanya. Melihat tradisi yang seperti ini, terlihat bahwa budaya di Indonesia memang sangat unik.

Upacara Adat Maccera Tasi khas Kalimantan Selatan

Salah satu upacara budaya di Kalimantan Selatan yaitu Upacara Adat Maccera Tasi. Upacara Adat Maccera Tasi adalah sebuah upacara tradisional dalam masyarakat nelayan yang ada di Kalimantan Selatan. Upacara ini sudah ada sejak berabad-abad lama dan tetap dilakukan hingga sekarang secara turun temurun dalam kurun waktu setahun sekali. Dalam upacara ini, akan dilakukan penyembelihan hewan seperti kambing, ayam, atau kerbau di kawasan pantai. Lalu darah dari hewan tersebut akan dialirkan atau dilarungkan menuju ke laut. Tujuannya adalah memberikan darah untuk kehidupan yang ada di laut sehingga mereka akan mendapatkan rezeki yang berlimpah dari laut. Meskipun tradisi ini hampir sama dengan tradisi di daerah lain, tapi upacara ini memiliki hiburan tersendiri bagi masyarakat setempat.

Sebelum dilakukan upacara ini, dilakukan dulu upacara lain yaitu Tampung Tawar. Upacara ini dilakukan untuk memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Hari selanjutnya, dilakukan pelepasan perahu Barang yang membawa beberapa persembahan. Sesembahan ini dilepas ke laut secara beramai-ramai baik itu oleh suku Mandar, Bugis, maupun Banjar. Seluruh prosesi upacara ini melambangkan adanya keeratan serta kekeluargaan antar masyarakat. Selain upacara adat ini, biasanya akan diadakan juga hiburan kesenian daerah seperti hadrah, atraksi pencak silat, ataupun musik tradisional. Ada juga atraksi-atraksi lain seperti atraksi meniti tali yang dilakukan oleh suku Bajau.

Upacara Adat “Barapen” Khas Papua

Pesta Bakar Batu mempunyai makna tradisi bersyukur dan merupakan sebuah ritual tradisional Papua yang dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur atas berkat yang melimpah, pernikahan, penyambutan tamu agung, dan juga sebagai upacara kematian. Upacara barapen juga membuktikan adanya perdamaian antar masyarakat setelah terjadi perang suku.

Sesuai dengan namanya, dalam memasak dan mengolah makanan untuk pesta tersebut, suku-suku di Papua menggunakan metode bakar batu. Tiap daerah dan suku di kawasan Lembah Baliem memiliki istilah sendiri untuk merujuk kata bakar batu. Masyarakat Paniai menyebutnya dengan gapii atau ‘mogo gapii‘, masyarakat Wamena menyebutnya kit oba isago, sedangkan masyarakat Biak menyebutnya dengan barapen. Namun tampaknya barapen menjadi istilah yang paling umum digunakan.

Pesta Bakar Batu juga merupakan ajang untuk berkumpul bagi warga. Dalam pesta ini akan terlihat betapa tingginya solidaritas dan kebersamaan masyarakat Papua. Namun dalam Festival Prakarsa Rakyat yang mengumpulkan simpul-simpul perkumpulan Praxis dari seluruh Indonesia ini, tak hanya masyarakat Papua yang bahu membahu tetapi juga masyarakat desa Mojowarno Jombang dan simpul-simpul dari Aceh, Jakarta, Jawa Barat, Jogja hingga Bali. Prosesi Barapen digunakan untuk menonjolkan sekaligus mengingatkan bahwa sikap gotong royong yang telah mengakar di bumi Indonesia kini nyaris punah dan harus dibumikan kembali.

Max Binur, perwakilan kelompok yang jauh-jauh datang dari Papua mengatakan, prosesi Pesta Bakar Batu terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, bakar babi, dan makan bersama. “Tahap persiapan diawali dengan pencarian kayu bakar dan batu yang akan dipergunakan untuk memasak. Batu dan kayu bakar disusun dengan urutan pada bagian paling bawah ditata batu-batu berukuran besar, di atasnya ditutupi dengan kayu bakar, kemudian ditata lagi batuan yang ukurannya lebih kecil, dan seterusnya hingga bagian teratas ditutupi dengan kayu. Kemudian tumpukan tersebut dibakar hingga kayu habis terbakar dan batuan menjadi panas,” katanya.

Sementara itu, menurut Max, warga yang lainnya mempersiapkan sebuah lubang yang besarnya berdasarkan pada banyaknya jumlah makanan yang akan dimasak. Dasar lubang itu kemudian dilapisi dengan alang-alang dan daun pisang. Dengan menggunakan jepit kayu khusus yang disebut apando, batu-batu panas itu disusun di atas daun-daunan. Setelah itu kemudian dilapisi lagi dengan alang-alang. Di atas alang-alang kemudian dimasukan daging babi, ayam, atau kambing. Namun karena di Jombang mayoritas penduduknya adalah islam, maka yang digunakan adalah daging kambing dan daging ayam. Setelah disusun, kemudian ditutup lagi dengan dedaunan. Di atas dedaunan ini kemudian ditutup lagi dengan batu membara, dan dilapisi lagi dengan rerumputan yang tebal.

Setelah itu, hipere (ubi jalar) disusun di atasnya. Lapisan berikutnya adalah alang-alang yang ditimbun lagi dengan batu membara. Kemudian sayuran berupa iprika atau daun hipere, tirubug (daun singkong), kopae (daun pepaya), nahampun (labu parang), dan towabug atau hopak (jagung) diletakkan di atasnya. Tidak cukup hanya umbi-umbian, kadang masakan itu akan ditambah dengan potongan barugum (buah). Selanjutnya lubang itu ditimbun lagi dengan rumput dan batu membara. Teratas diletakkan daun pisang yang ditaburi tanah sebagai penahan agar panas dari batu tidak menguap.

Sembari menunggu, kawan-kawan Papua yang sudah bersiap dengan pakaian tradisionalnya dan melukis dirinya dengan cat berwarna putih mulai menari diiringi musik khas Papua dengan mengelilingi barapen sembari menunggu makanan matang.

Sekitar 60 hingga 90 menit masakan itu sudah matang. Setelah matang, rumput akan dibuka dan makanan yang ada di dalamnya mulai dikeluarkan satu persatu, kemudian dihamparkan di atas rerumputan.

Syahdan, pesta Bakar Batu merupakan acara yang paling dinantikan oleh warga suku-suku pedalaman Papua. Demi mengikuti pesta ini mereka rela menelantarkan ladang dangan tidak bekerja selama berhari-hari. Selain itu, mereka juga bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar untuk membiayai pesta ini. Pesta ini sering dilaksanakan di kawasan Lembah Baliem, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Indonesia.

Namun, kepastian titik lokasi dilaksanakannya ini tidak menentu. Jika sebagai upacara kematian maupun pernikahan, pesta ini akan dilaksanakan di rumah warga yang memiliki hajatan. Namun, bila upacara ini sebagai ucapan syukur atau simbol perdamaian biasanya akan dilaksanakan di tengah lapangan besar.

Tradisi Balimau di Sumatera Barat Dulu dan Kini

Ada hal unik ketika beberapa hari menjelang Ramadhan di Sumatra Barat. Sehari atau dua hari menjelang memasuki Ramadhan, tempat-tempat pemandian ramai sekali dikunjungi warga. Tradisi ini disebut dengan istilah “balimau”.

Secara harfiah, balimau berarti mandi dengan menggunakan limau (jeruk nipis). Zaman dahulu, warga Minangkabau mandi dengan menggunakan jeruk nipis sebagai pengganti fungsi sabun. Balimau berarti penekanan makna bahwa ia mandi benar-benar bersih. Itulah yang kemudian dikaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan batin menjelang melaksanakan ibadah puasa.

Tradisi balimau dipercaya sudah ada sejak abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda. Awalnya, tradisi balimau merupakan sebuah ritual di mana pada hari terakhir bulan Syaban seseorang diharuskan mandi keramas dengan limau. Setelah balimau atau bakasai tersebut, barulah seseorang berniat untuk berpuasa Ramadhan esok harinya.

Balimau biasanya dilakukan di tempat pemandian umum. Karena zaman dahulu, memang warga Minang melakukan aktivitas di tempat pemandian seperti disungai (batang aie), danau atau pincuran. Zaman dahulu tak ada kamar mandi di rumah.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berjalan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Mulai muncul perbedaan pendapat apakah kebersihan lahiriyah berdampak pada kebersihan ruhani. Namun secara umum, esensi balimau sebagai simbol untuk mempersiapkan diri dengan kebersihan ruhani pun bergeser.

Saat ini, balimau lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian. Bahkan, para muda-mudi menjadikan momen ini sebagai ajang hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja-remaja, balimau hanya tinggal sebagai simbol. Balimau dijadikan alasan agar mendapatkan izin dari orang tua mereka untuk keluar bertamasya.

Jadi, wajar saja saat ini tradisi balimau yang menyimpang banyak ditentang para pemuka agama dan ulama di Sumatra Barat. Tradisi balimau yang salah kaprah bagi muda-mudi ini dikhawatirkan menjadi bumerang bagi generasi muda. Melihat kondisi saat ini, balimau bukan dimaknai sebagai mandi pertobatan, tetapi sebagai ajang maksiat bagi muda-mudi. (edwar)