Tradisi Balimau di Sumatera Barat Dulu dan Kini

Upacara Adat “Balimau” khas Minangkabau
May 3, 2017
Upacara Adat “Barapen” Khas Papua
May 5, 2017

Tradisi Balimau di Sumatera Barat Dulu dan Kini

Ada hal unik ketika beberapa hari menjelang Ramadhan di Sumatra Barat. Sehari atau dua hari menjelang memasuki Ramadhan, tempat-tempat pemandian ramai sekali dikunjungi warga. Tradisi ini disebut dengan istilah “balimau”.

Secara harfiah, balimau berarti mandi dengan menggunakan limau (jeruk nipis). Zaman dahulu, warga Minangkabau mandi dengan menggunakan jeruk nipis sebagai pengganti fungsi sabun. Balimau berarti penekanan makna bahwa ia mandi benar-benar bersih. Itulah yang kemudian dikaitkan dengan ajaran agama Islam, yakni sebagai simbol benar-benar membersihkan diri lahir dan batin menjelang melaksanakan ibadah puasa.

Tradisi balimau dipercaya sudah ada sejak abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda. Awalnya, tradisi balimau merupakan sebuah ritual di mana pada hari terakhir bulan Syaban seseorang diharuskan mandi keramas dengan limau. Setelah balimau atau bakasai tersebut, barulah seseorang berniat untuk berpuasa Ramadhan esok harinya.

Balimau biasanya dilakukan di tempat pemandian umum. Karena zaman dahulu, memang warga Minang melakukan aktivitas di tempat pemandian seperti disungai (batang aie), danau atau pincuran. Zaman dahulu tak ada kamar mandi di rumah.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berjalan dinamis mengikuti perkembangan zaman. Mulai muncul perbedaan pendapat apakah kebersihan lahiriyah berdampak pada kebersihan ruhani. Namun secara umum, esensi balimau sebagai simbol untuk mempersiapkan diri dengan kebersihan ruhani pun bergeser.

Saat ini, balimau lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian. Bahkan, para muda-mudi menjadikan momen ini sebagai ajang hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja-remaja, balimau hanya tinggal sebagai simbol. Balimau dijadikan alasan agar mendapatkan izin dari orang tua mereka untuk keluar bertamasya.

Jadi, wajar saja saat ini tradisi balimau yang menyimpang banyak ditentang para pemuka agama dan ulama di Sumatra Barat. Tradisi balimau yang salah kaprah bagi muda-mudi ini dikhawatirkan menjadi bumerang bagi generasi muda. Melihat kondisi saat ini, balimau bukan dimaknai sebagai mandi pertobatan, tetapi sebagai ajang maksiat bagi muda-mudi. (edwar)