Kerukunan Umat Beragama Dalam Nyepi Di Bali

Kerukunan antar umat beragama di Pulau Bali yang selama ini terjalin cukup baik bahkan menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia merupakan hal yang mutlak tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Kerukunan antar umat beragama harga mati bagi kami, karena itu menjadi pondasi dalam melaksanakan pembangunan,” tegas Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali Dewa Gede Ngurah Swasta di Kantor Wilayah Kementerian Agama Bali, Selasa (16/2/2016).

Dengan kerukunan umat beragama, bisa membangun bangsa. Sebaliknya, sekali kerukunan ternoda, maka hal itu membahayakan keutuhan bangsa.

Menurutnya, jika hanya perbedaan, gesekan sekala kecil, hal biasa terjadi dan manusiawi. Tidak akan menganggu, hubungan antar umat dan kehidupan berbangsa.

Yang dia maksudkan, ancaman kerukunan yang sifatnya agak massif. Hal itu, akan mengganggu tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa, sehingga jangan sampai terjadi.

“Kita bersyukur, adanya pemahaman kerukunan dan pluralisme, bahwa dunia ada perbedaan agama, sehingga saling menghormati, saling mendukung, itu sudah berjalan dengan baik, itu sudah terjadi di Indonesia,” sambungnya.

Contoh di Bali, antar agama, tidak dijalankan hukum agama yang secara mutlak-mutlakan. Umat Hindu, sebelum Bali itu plural seperi sekarang, saat pelaksanaan nyepi misalnya, benar-benar mutlak.

Hanya saja, kemudian dihadapkan fakta, bahwa umat Hindu, punya saudara umat lainnya baik Islam, Kristiani, Budha, sehingga terkadang hari Nyepi berbenturan bersamaan waktu hari raya Idul Fitri, sembahyang jumat, hingga Natal. Namun, semua itu tetap bisa berjalan dengan baik.

Dengan toleransi, kerukunan antara mereka, semua berjalan dengan baik, tanpa ada persoalan dalam pelaksanaanya.

“Saudara umat Islam ke Masjid, Kristiani ke Gereja dan seterusnya, dengan cara begini begini, akhirnya semua bisa berjalan dengan baik,” tukas dia..

Dari pengalaman pelaksanaan Nyepi di Bali, jika waktunya bersamaan dengan ibadah umat Islam dan Kristiani, tetap bisa dilaksanakan dengan ketentuan dan kesepakatan bersama, tanpa menganggu ibadah umat lainnya.

Saat Umat Hindu merayakan Nyepi, semua bisa menghormati dengan baik, tidak ada yang merasa terganggu. Bandara dan Pelabuhan, ditutup selama Nyepi, juga bisa berjalan dengam baik.

Itu semua tidak hanya berkat kesadaran maupun toleransi, tetapi lebih dari itu karena ada rasa kebersamaan yang kuat, antara semua umat beragama di Bali yang sudah terwujud.

Hal itulah yang perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.

Sebagai contoh sekarang, pertemuan digagas Kemenag Bali dalam Rapat Koordinasi Lintas Lembaga Keagamaan dan Instansi Terkait, untuk kelancaraan perayaan Nyepi pada 9 Maret 2016, menjadi bukti kerukunan antar umat beragama.

“Pertemuan seperti ini selalu berarti, sangat penting dan strategis bagi kita untuk selalu menjaga kerukunan dan komunikasi antar umat beragama dan masyaraat semuanya,” imbuh Swasta.

CategoriesUncategorized