Tarian Daerah Pada Masa Kerajaan

gending sriwijayaMASA KERAJAAN

Masa kerajaan ini ditandai oleh masuknya pengaruh luar sebagai unsur asing antara lain, kebudayaan Cina, Hindu-Budha, Islam, dan Barat. Kebudayaan Cina kurang mendapat perhatian oleh para peneliti, karena kemungkinan dasar kepercayaan yang hampir sama dengan masyarakat pribumi, yaitu percaya kepada roh-roh leluhur, sehingga kurang begitu nyata pada perubahan sistem kemasyarakatannya.

Barangkali pula karena nenek moyang yang menghuni Indonesia oleh para pakar kebudayaan dikatakan imigran dari daratan Asia yaitu wilayah Cina bagian Selatan. Maka pengaruh budaya Cina ini berbeda dengan pengaruh asing lainnya terutama pengaruh Hindu, Islam, dan Barat. Pengaruh ini sangat nyata pada stratifikasi sosial yang hirarkis yang ditandai dengan adanya sistem kelas sosial, yaitu masyarakat adat atau rakyat dan masyarakat bangsawan atau istana. Sistem ini cukup langgeng dari awal berdirinya kerajaan-kerajaan pada sekitar abad ke-4 sampai awal abad ke-20. Dengan adanya dua kelas sosial ini maka muncul dua wajah tari yang disebut tari rakyat dan tari istana atau tari klasik.

Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti wayang wong dan bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Namun selanjutnya wayang wong lebih berkembang di keraton Yogyakarta, sedangkan bedhaya ketawang berkembang di keraton Surakarta. Jika ditinjau dari latar belakang sejarahnya, maka teater tari ini telah hidup sejak abad ke-9 jaman Mataram Kuno, dengan perbedaan nama seperti Wayang Wang, Atapukan, Raket, Patapelan, dan Wayang Topeng sampai Wayang Wong.

Yang dimaksud Wayang Wong adalah teater tari yang mengambil sumber ceritera wayang seperti Ramayana, dan Mahabarata yang biasanya dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit. Dalam teater ini ditampilkan oleh manusia sebagai personifikasi boneka wayang, sedangkan Wayang Topeng adalah teater tari yang penarinya menggunakan penutup muka yang disebut topeng. Teater tari ini tersebar di Jawa, Bali, dan Madura. Puncak kemegahan teater tari Wayang Wong di Jawa terjadi pada masa pemerintahan Hamengku Buwono VIII (1939) di Yogyakarta.

Sedangkan Bedhaya Ketawang adalah tarian yang dicipta oleh raja Mataram ketiga, Sultan Agung (1613-1646) dengan berlatarbelakang mitos percintaan antara raja Mataram pertama (Panembahan Senopati) dengan Kangjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan/Samudra Indonesia). Tarian ini ditampilkan oleh sembilan penari wanita.

Masuknya pengaruh Islam di Jawa cukup lentur, para penyebar agama telah dipercaya sebagai pengembang kesenian. Wayang topeng tidak berkembang lagi di istana Jawa, tetapi teater ini telah dipergunakan oleh kaum missionari Islam (para wali) pada masa lalu untuk menyebarkan agama dengan cara pentas keliling. Jalur perniagaan melalui daerah pantai merupakan wilayah para penyebaran teater wayang topeng, sehingga teater tari ini akhirnya menjadi seni yang berkembang di sepanjang pantai utara Jawa antara lain, Malang, Tegal, Cirebon dan Indramayu.

Pengaruh kebudayaan barat dalam bidang tari di istana-istana Jawa berhubungan dengan lepasnya kekuasaan politik raja kepada pihak Barat, sehingga sejak abad ke-18 sampai awal abad ke-20 keraton hanya berperan dalam pengembangan kebudayaan. Oleh karena itu berkembang pula ciptaan-ciptaan tari seperti tari srimpi (tarian yang ditampilkan oleh empat orang penari wanita). Pertunjukan Wayang Wong masih dipentaskan sangat meriah sesuai dengan fungsinya sebagai ritual kenegaraan. Di sisi lain, pengaruh Barat ini menyebabkan munculnya tarian di luar konteks adat. Secara koreografis pengaruh Barat kurang dapat dilihat dalam tarian Indonesia. Kenyataan ini sangat berbeda dengan bidang musik. Bentuk musik hasil sinkretis antara musik rakyat Indonesia dengan pengaruh Barat terdapat pada gambang keromong, tanjidor, langgam jawa, keroncong, dangdut, dan sebagainya. Bahkan alat musik barat seperti trombon masuk pada ansambel gamelan Jawa yang biasa dipergunakan untuk mengiringi tarian. Akan tetapi pengaruh Barat yang terlihat pada tarian terletak pada penggunaan properti tari. Senjata berupa pistol dipergunakan sebagai properti tari srimpi. Pengaruh Barat terlihat juga pada busana Topeng Cirebon yaitu pemakaian dasi.

Di Bali pengaruh Barat terwujud oleh gagasan teater dari Walter Spies (pelukis asal Jerman yang hidup di Bali sejak tahun 1929) untuk tujuan tontonan orang asing. Gagasan ini teraktualisasikan dalam pertunjukan Barong dan Rangda yang dipadu dengan tari keris serta Cak atau Kecak (Soedarsono, 1985). Salah satu gagasan teater dari Barat adalah berkembangnya tari dalam konteks non-adat berupa bentuk-bentuk penyajian teater yang memberi tekanan besar pada unsur penceriteraan dalam bentuk total art, dimana tari menjadi salah satu unsur kuatnya, contohnya: randai di Minangkabau, Wayang Wong dan Langendriya-Langen Wanara dari Jawa, Legong dan Kecak dari Bali. Kenyataan ini mungkin untuk menjadikan teater lebih berkomunikasi dengan penontonnya melalui bahasa gerak.

Budaya tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang kita tak akan pernah lekang dimakan waktu. seni tari tradisi, seni musik tradisi, seni teater tradisi, tidak berubah. tapi seiring perkembangan jaman seni tradisi sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh masyarakat pemiliknya , mereka mulai berpaling dengan budaya barat yang sedikit-demi sedikit mulai berpengaruh di negeri ini, dengan didukung pula oleh perkembangan teknologi dan informasi, sehingga siapapun dapat dengan mudah menerima informasi-informasi dari luar, terutama budaya dari luar yang lagi ngepop akan mudah masuk terutama pada dunia anak remaja yang sedang mencari jati dirinya.anak-anak muda dan anak remaja sekarang bahkan lebih bangga dengan budaya-budaya barat tersebut. Mereka beranggapan bahwa budaya tradisional kita terutama TARI itu kuno dan Jadul.  Sungguh sangat ironois jika putra bangsa ini baru mengetahui “Tari pendet” ketika tarian itu di klaim oleh negara tetangga.

Prospek Tari di Indonesia

Secara administratif pemerintahan Indonesia terbagi atas 26 propinsi. Namun demikian, sebagai wilayah budaya masing-masing propinsi dapat memiliki kesenian dari berbagai etnik maupun sub-etnik yang jumlahnya bukan saja puluhan tetapi ratusan.

Di dalam kelompok etnik maupuan sub-etnik dapat ditemukan beragam jenis tarian. Tari-tarian ini mempunyai latar belakang sejarah, peranan dan perkembangan kebudayaan yang berbeda. Dalam proses perkembangannya di masa kini, terutama semenjak kemerdekaan Indonesia ada jenis tari-tarian yang dapat mencapai tingkat dan bobot artistik yang tinggi yang dapat dianggap klasik maupun kontemporer. Namun demikian tidak sedikit yang berada di ambang kepunahan dan masih tertinggal sisa-sisanya yang sebagai seni pertunjukan tidak berarti lagi atau telah menjadi hiburan ringan, bahkan ada pula yang hidupnya menempel dan tergantung pada aspek kehidupan lain.

Kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945 dan perjuangan kebangsaan pada masa pergerakan nasional, telah membawa nafas baru pada tari Indonesia. Hal itu muncul melalui suatu kesadaran nasional untuk menghidupkan tari-tarian Indonesia yang bersumber pada berbagai budaya daerah.
Sejak kemerdekaan Indonesia, seni tari tradisional sebagai budaya daerah menjadi bagian dari kebudayaan nasional yang memperkuat identitas bangsa Indonesia. Sehubungan dengan hal itu banyak tari daerah yang hampir punah diangkat kembali melalui program revitalisasi, rehabilitasi dan akhirnya dipreservasi sebagai khasanah budaya Indonesia. Dalam hal ini pusat-pusat kesenian daerah amat sangat diharapkan peran sertanya untuk memacu dan memberikan suasana yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya tari-tarian daerah.

Sudah sejak lama bangsa Indonesia mempunyai kesadaran baru akan suatu kebutuhan terhadap sejenis tarian yang dapat memiliki ciri nasional dan tidak lagi dapat dikategorikan sebagai tari daerah atau tari suku-bangsa tertentu, tapi suatu tari bangsa Indonesia. Pemikiran ini sejalan dengan apa yang terjadi di bidang sastra, bahasa dan lain-lain, di mana kebutuhan kesatuan dan persatuan merupakan masalah yang nyata. Namun demikian kebutuhan yang menyangkut kepentingan tari tidak semudah bidang lainnya. Secara intrinsik tari memiliki kaidahnya tersendiri yang proses pemecahannya sedemikian rupa sehingga memerlukan seperangat permasalahan teknis tersendiri apabila mau dikembangkan ke arah itu.

Dengan demikian apabila kesenian Indonesia, khususnya seni tari ingin terangkat sebagai khasanah bangsa secara menyeluruh maka ia memerlukan sistem pembinaan secara tersendiri. Pembinaan yang memacu kepada sistem kesenian nasional Indonesia mulai dikembangkan melalui sarana pendidikan formal yang sifatnya kejuruan pada bidang seni tari itu sendiri. Hal ini sudah dilaksanakan melalui pendidikan seni tari di sekolah formal dalam tingkatan menengah, tinggi maupun yang tersebar melalui sanggar dan perkumpulan seni tari. Pada dasarnya memang tari tradisional yang menjadi titik tolak pembinaan. Akan tetapi melalui pembinaan kreativitas dan komposisi serta koreografi, konsepsi nasional dapat tertampung dalam pengembangan tari sebagai seni pertunjukan Indonesia. Selebihnya pembinaan seni tari melalui kegiatan festival, pekan kesenian di tingkat lokal dan nasional membawa serta kepentingan akan pemahaman kesatuan dan persatuan. Pada mulanya jenis kreasi tari sedemikian masih dikategorikan sebagai tari modern, tari kontemporer atau dengan istilah lebih lunak tari kreasi baru. Aspirasi nasional semakin terasa dan sudah mulai terlihat bentuknya melalui seni tari ini. Sering kali unsur etnik atau kedaerahan masih terasa dan masih kuat muatan lokalnya, tapi nafas baru sebagai khasanah nasional lebih terasa daripada kelokalannya atau keetnikannya. Permasalahannya kemudian menjadi masalah teknis artistik, di mana kesenimanan nasional pada dasarnya juga memerlukan pendidikan dan pembinaan secara tersendiri. Hal ini juga diperkuat ketika seniman tari Indonesia mengikuti berbagai peristiwa internasional dan pengalaman tersebut menjadi bekal dalam berkarya selanjutnya.

Prospek tari di Indonesia adalah suatu proses pengangkatan berbagai aspek warisan budaya menuju makna kekinian yang nasional, regional maupun universal dan global untuk dapat disumbangkan sebagai khasanah kebudayaan umat manusia yang lintas budaya dan batas geografi. Bhineka Tunggal Ika dalam seni tari sudah mulai terungkap; tidak saja dalam konteks nasional juga di dalam pergaulan internasional, di mana multikulturalisme dan pluralisme dalam berkesenian justru merupakan suatu kekuatan yang menyatu berbagai kepentingan kesenian di dunia dalam memupuk sikap saling mengerti dan saling menghargai antar kehidupan berbangsa.

Tokoh-tokoh dan seniman-seniman yang telah mengembangkan karyanya ke arah wawasan ini sudah banyak terutama di lingkungan Perguruan Tinggi Kesenian, Pusat Kesenian, Dewan Kesenian, Taman Budaya yang sudah tersebar di berbagai sentral-sentral budaya seperti Aceh, Medan, Padang, Padang Panjang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Tenggarong, Ujung Pandang, Jayapura dan lain-lain.

Mungkin sebagai titik tolak perkembangan itu adalah kegiatan sebagaimana yang terpusat di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta.

Pada generasi pertama kita mengenal tokoh-tokoh tari seperti Bagong Kussudiardjo dan Wisnu Wardhana; koreografer yang berasal dari Yogyakarta yang berjasa dalam mengembangkan karya tarinya tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Sardono W. Kusumo, koreografer yang berasal dari Surakarta dan memulai kariernya pada pentas Ramayana di Prambanan, kemudian mengembara dan menetap di Jakarta dan melakukan pertunjukan ke berbagai tempat di luar negeri. Karya-karya tarinya seringkali kontroversal, tetapi tampak pula bahwa ia merintis kebaharuan dalam kreativitas seni tari Indonesia. Dalam kelompoknya perlu dicatat tokoh semacam Sal Murgiyanto, seorang koreografer yang menjadi ilmuwan dalam ilmu tari, di samping Sentot Sudiharto, Retno Maruti dan S. Kardjono yang lebih mengembangkan gaya tari Yogyakarta. Dari wilayah lain ada Huriah Adam dari Sumatera Barat, Tengku Mazly H. Mansur dari Sumatera Timur, Munasiah Najamuddin dan Nani Sapada dari Ujung Pandang serta I Wayan Diya dari Bali.

Dari generasi yang lebih muda muncul seniman yang potensinya tak kalah dibandingkan generasi sebelumnya. Tom Ibnur, Deddy Luthan, Gusmiati Suid dan Boi G. Sakti yang berasal dari Sumatera Barat; Wiwiek Sipala dari Sulawesi Tenggara; Trisapto, Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santosa, Tri Nardono dan Sukarji Sriman dari Surakarta; Wiwiek Widyastuti, Djoko Suko Sadono, Elly Pasha dari lingkungan DKI Jakarta; Noerdin Daoed dan Marzuki Hasan dari Aceh, serta I Made Bandem, I Wayan Dibya dan Netra dari Bali.

Selain nama-nama di atas masih banyak lagi tokoh-tokoh pengembang dan pelestari seni tari di Indonesia, baik dari generasi yang lalu, maupun yang akan datang yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

PENGETAHUAN DASAR TARI.

Media tari adalah gerak tubuh manusia. Melalui gerak tubuh manusia dipakai untuk mengungkapkan ide-ide, perasaan, dan pengalaman sang seniman kepada orang lain. Ciri khas gerak tari adalah gerak yang sudah diolah dari aspek tenaga, ruang, dan waktu.

Seni adalah pengalaman dalam bentuk medium indrawi yang menarik dan di tata dengan rapi, yang di wujudkan untuk di komunikasikan dan di renungkan. Seni adalah karya manusia yang dapat menimbulkan rasa senang dalam rohani kita.  Menurut Herbert Read “seni adalah suatu usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang demikian itu memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa indah ini terpenuhi bila kita menemukan kesatuan atau harmoni dari hubungan bentuk-bentuk yang kita amati itu”. Keindahan adalah sesuatu yng dapat menimbulkan rasa senang dan seni adalah keindahan.

Tari merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki media ungkap atau substansi gerak, dan gerak yang terungkap adalah gerak manusia. Gerak- gerak dalam tari bukanlah gerak realistis atau gerak keseharian, melainkan gerak yang telah diberi bentuk ekspresif. Gerak ekspresif ialah gerak yang indah, yang bisa menggetarkan perasaan manusia.Gerak yang di stilir mengandung ritme tertentu,yang dapat memberikan kepuasan batin manusia. Gerak yang indah bukan hanya gerak-gerak yang halus saja, tetapi gerak-gerak yang kasar, keras, kuat, penuh dengan tekanan-tekanan, serta gerak anehpun dapat merupakan gerak yang indah. Gerak merupakan elemen pertama dalam tari, maka ritme merupakan elemen kedua yang juga sangat penting dalam tari.

Ada dua jenis tari, yakni tari tradisional dan tari non-tradisional. Hal yang termasuk tari tradisional Indonesia adalah tari primitif, tari rakyat, dan tari klasik. Ketiga jenis tari ini tujuan upacara, hiburan, dan tontonan Sedangkan yang termasuk dalam jenis tari non-tradisional adalah tari kreasi baru, tari modern, dan tari kontemporer. Ciri khas tari kreasi baru adalah tari tradisional yang diperbaharui. Ciri khas tari modern dan tari kontemporer adalah penemuan baru dalam hal tema, bentuk, dan penyajian tari.

Wujud tari modern dan tari kontemporer Indonesia biasanya merupakan gabungan dari unsur-unsur budaya setempat dengan unsur budaya dunia. Ada pula yang sepenuhnya menampilkan unsur budaya dunia. Ciri khas tari kontemporer Indonesia adalah menyajikan tema, bentuk yang sedang terkenal, sedang menjadi sorotan saat ini. Jika tari kontemporer cirinya menyajikan tema dan bentuk yang sedang terkenal, sedang menjadi sorotan saat ini, namun tari modern belum tentu menyajikan tema dan bentuk yang sedang terkenal saat ini.

Seni tari bersifat universal, artinya seni tari ini dilakukan dan dimiliki seluruh manusia di dunia. Mengingat tempat kedudukan manusia satu dengan yang lain berbeda-beda, maka pengalaman hidup mereka itu beraneka ragam pula. Akhirnya dasar titik tolak pengetahuan merekapun berbeda-beda. Bagi manusia yang hidup di daerah tropis tentu akan berbeda dengan mereka yang hidup di daerah kutub. Bagi yang hidup di daerah pegunungan pasti berbeda dengan yang hidup di padang pasir. Perjuangan mereka berbeda-beda dalam memecahkan suatu masalah. Maka dari itulah, biarpun aspek kejiwaannya sama namun dalam penentuan pembatasan atau dalam memberikan definisi seni tari terdapat keaneka-ragaman.

Tari itu sendiri dalam penggunaannya dapat bermacam-macam. Pada musim hujan di malam hari katak menari-nari sambil menyanyi kerena kegembiraan. Kunang-kunang bergemerlapan memancarkan sinarnya diantara daun padi bagaikan menari-nari karena terpenuhi tuntutan kesenangan hidupnya. Di siang hari di atas dahan yang tinggi burung-burung meloncat-loncat dan terbang kesana kemari seolah menari-nari karena telah terpenuhi tuntutan kodratinya. Bayi lahir, setelah itu menangis, kemudian menari-nari karena telah berhasil memecahkan saat-saat kritis dalam perjuangan menyesuaikan diri dengan kondisi alam semesta. Demikian pula dari suku bangsa primitif sampai jke tingkat bangsa yang telah berkembang dan maju semuanya menari untuk mencerminkan tercapainya tuntutan hidupnya. Karena rasa kegembiraan, maka dalam mengekspresikan dibentuklah suatu gerakan yang enak untuk dinikmati oleh orang lain.

Untuk membatasai apa yang disebut tari, maka lahirlah bermacam-macam definisi tari. Definisi tersebut disusun oleh beberapa tokoh seni tari atau tokoh bidang seni lain yang dalam hidupnya banyak berkecimpung dalam bidang seni tari. Para tokoh tersebut antara lain mendefinisikan tari sebagai berikut:

  1. Ingkang kawastanan beksa inggih punika ebahing sadaya saranduning badan, kesarengan ungeling gangsa, katata pika tuk wiramaning gending, jumbuhing pasemon kalihan pikajenging joged (arti: tari adalah gerak seluruh badan yang diiringi irama lagu musik yang diselaraskan dengan ekspresi tarinya). Dikemukakan oleh BPH Suryodiningrat, seorang ahli tari dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bukunya“Babad lan Mekaring Joged Jawi”.
  2. Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-grak ritmis yang indah. Dikemukakan oleh Drs. Sudarsono dalam bukunya “Djawa dan Bali: Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia”.
  3. Tari adalah ekspresi estetis dalam gerak dengan media tubuh manusia. Dikemukakan oleh Drs. Wisnoe Wardhana dalam bukunya “Pengajaran Tari”.
  4. Tari adalah keteraturan bentuk gerak tubuh di dalam ruang. Dikemukakan oleh Drs. Sudharso Pringgobroto dalam kuliah-kuliah ASTI Yogyakarta sekitar tahun 1967.
  5. Tari adalah gerak yang ritmis. Dikemukakan oleh Curt Sach, seorang ahli tari Jerman dalam bukunya “World History of the Dance”.
  6. Tari adalah gerak-gerak yang berbentuk dan ritmis dari tubuh dalam ruang. Dikemukakan oleh Corrie Hartong dalam bukunya “Danskunst”.
  7. Tari dapat dikatakan sebagai suatu naluri, suatu desakan emosi dalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari, yaitu gerakan-gerakan luar yang ritmis yang lama kelamaan nampak mengarah kepada bentuk-bentuk tertentu. Dikemukakan oleh Kamaladevi Chattopadhyaya, seorang ahli seni dari India.
  8. Tari adalah ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif. Dikemukakan oleh La Meri dalam bukunya “Dance Compotition”.

Penggolongan berdasarkan atas fungsinya, Tari digolongkan menjadi:

  • Tari Upacara, yaitu tarian yang bersifat magis untuk mempengaruhi alam, bersifat ritual dan untuk upacara adat yang bersifat religius. Tarian ini sering digunakan untuk upacara agama.
  • Tari Hiburan, yaitu tari yang dititik beratkan pada segi hiburan, dimana tidak diutamakan pada segi keindahannya. Pada umumnya berbentuk tari pergaulan. Tarian ini biasanya ditarikan secara berpasangan antara muda-mudi dengan santai.
  • Tari Pertunjukan, yaitu tari dimana nilai artistiknya sangat diutamakan. Golongan tari-tarian ini adalah merupakan kelompok seni murni, bukan seni terpakai. Biasanya tari ini merupakan sarana ekspresi dari penciptanya yang murni tanpa dibatasi dan disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan lain di luar seni tari.

Penggolongan berdasarkan isinya, digolongkan menjadi:

v  Tari Pantomim, yaitu tari yang isi atau temanya mencoba untuk menirukan sesuatu. Yang ditirukan dapat berupa kejala-gejala alam, misalnya hujan, angin, benda-benda alam, kegiatan sehari-hari, dan sebagainya.

v  Tari Erotik, yaitu tari yang mengambil tema percintaan pria dan wanita. Tarian hiburan pada jaman feodal banyak yang mengambil tema erotik yang memang mengasyikkan.

v  Tari Heroik atau Kepahlawanan, yaitu tarian yang mengambil tema kepahlawanan. Biasanya berupa tarian perang. Perang antara yang jahat melawan yang baik/benar. Juga menggambarkan kecintaan seorang pahlawan terhadap tanah airnya.

v  Drama Tari, yaitu rangkaian tari yang disusun sedemikian rupa hingga melukiskan suatu kisah atau cerita drama tari berdialog, baik prosa maupun puisi dan juga ada yang berupa dialog (percakapan). Jika tanpa dialog, maka menggunakan tanda-tanda gerakan ekspresi muka atau mimik sebagai alat untuk berbicara. Adapun cerita yang sangat digemari oleh masyarakat misalnya: Ramayana, Mahabarata, Panji atau juga Babad.

Unsur Pokok Tari

Media memiliki 2 pengertian, yaitu bahan dan alat. Bahan baku tari adalah gerak dan tubuh manusia sebagai alat untuk mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalaman. Gerak tari terbentuk karena adanya kombinasi tenaga, ruang dan waktu di dalam setiap gerak tari maka ketiganya disebut sebagai unsur pokok tari

Tenaga adalah kekuatan yang mendorong terjadinya gerak. Jenis tenaga adalah berat/ringan, kuat lemah.

Ruang adalah tempat untuk bergerak. Tempat untuk bergerak yang bersifat harfiah, contohnya panggung terbuka, panggung tertutup. Sedangkan bersifat imajinatif tercipta karena benda-benda di panggung dan karena gerakan penari, arah gerak penari, teba gerak, tinggi rendah penari pada waktu menari.

Waktu adalah tempo yang diperlukan penari untuk melakukan gerak. Waktu tergantung dari cepat lambatnya (tempo) penari dalam melakukan gerakan, panjang pendeknya ketukan (ritme) penari dalam bergerak dan lamanya (durasi) penari melakukan gerakan.

Unsur Komposisi Tari

Pengetahuan komposisi tari adalah pengetahuan yang berhubungan dengan bagaimana memilih dan menata gerakan menjadi sebuah karya tari. Pengetahuan komposisi tari mempelajari tentang desain lantai, desain atas, desain musik, dramatik, dinamika, tema, tata rias dan busana, tata pentas, tata lampu dan tata suara.

Desain lantai, desain atas, desain musik, dramatik, dinamika, tema, tata rias dan busana, tata pentas, tata lampu dan tata suara disebut sebagai unsur komposisi tari. Desain lantai adalah garis-garis lantai yang dilalui oleh seorang penari atau garis yang dibuat oleh formasi penari. Desain atas adalah desain yang dibuat oleh anggota badan yang berada di atas lantai. Desain musik adalah pola ritmik dalam tari.

Desain dramatik adalah tahap-tahapan emosional untuk mencapai klimaks dalam sebuah tari. Dinamika adalah segala perubahan di dalam tari karena adanya variasi-variasi di dalam tari. Tema adalah ide persoalan dalam tari. Tata rias dan busana adalah rias wajah dan pakaian untuk mendukung penampilan penari di atas pentas. Tata pentas adalah penataan pentas untuk mendukung pergelaran tari. Seperangkat benda yang berada di atas pentas untuk mendukung pergelaran tari disebut dengan setting. Tata lampu adalah penataan seperangkat lampu di pentas untuk mendukung pergelaran tari. Tata suara adalah penataan seperangkat alat sumber bunyi untuk tujuan pengaturan musik iringan tari, pada waktu pergelaran tari berlangsung.

CategoriesUncategorized