Nama Alat Musik Tradisional Indonesia
April 11, 2017
12 Budaya Indonesia yang Mendunia
April 13, 2017

PERKEMBANGAN SENI TARI DI NUSANTARA

tari legong

Perjalanan dan bentuk seni tari di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara kesatuan. Jika ditinjau sekilas perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan, maka perkembangan tersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan masyarakat Indonesia pada masa lalu.

James R. Brandon tahun 1967, salah seorang peneliti seni pertunjukan Asia Tenggara asal Eropa, membagi empat periode budaya di Asia Tenggara termasuk Indonesia yaitu:

1) periode pra-sejarah sekitar 2500 tahun sebelum Masehi sampai 100 Masehi (M)

2) periode sekitar 100 M sampai 1000 M masuknya kebudayaan India,

3) periode sekitar 1300 M sampai 1750 pengaruh Islam masuk, dan

4) periode sekitar 1750M sampai akhir Perang Dunia II.

Pada saat itu, Amerika Serikat dan Eropa secara politis dan ekonomis menguasai seluruh Asia Tenggara, kecuali Thailand.

Menurut Soedarsono tahun 1977, salah seorang budayawan dan peneliti seni pertunjukan Indonesia, menjelaskan bahwa, “secara garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesia tradisional sangat dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar”. Berdasarkan pendapat Soedarsono tersebut, maka perkembangan seni pertunjukan tradisional Indonesia secara garis besar terbagi atas periode masa pra pengaruh asing dan masa pengaruh asing. Namun apabila ditinjau dari perkembangan masyarakat Indonesia hingga saat ini, maka masyarakat sekarang merupakan masyarakat Indonesia dalam lingkup negara kesatuan. Tentu saja masing-masing periode telah menampilkan budaya yang berbeda bagi seni pertunjukan, karena kehidupan kesenian sangat tergantung pada masyarakat pendukungnya.

Oleh karena itu, tari merupakan bentuk seni fungsional atau “utilitas” bagi masyarakatnya. Tema dan pengungkapan lewat gerak tidak terpisahkan dari kepentingan menyeluruh. Biasanya penyajian tari terkait dengan upacara ritual yang bersifat magis dan sakral. Untuk itu maka diperlukan tempat dan perhitungan waktu tertentu. Jika mengikuti sistem keadatan, maka pelaku tariannya pun tertentu pula.

Tari di Indonesia pada dasarnya merupakan pengertian yang dikaitkan dengan tari-tarian yang berasal dari berbagai kelompok budaya dari wilayah Indonesia. Sedangkan Sejarah Indonesia berkaitan dengan sejarah perkembangan kebangsaan Indonesia sejak zaman prasejarah hingga kini. Namun demikian studi tentang Sejarah Tari Indonesia dapat dilaksanakan dengan bertolak terlebih dulu dari bidang studi lain seperti Sastra, Antropologi, Arkeologi dan Seni Rupa ataupun dari bidang Teater dan Musik. Bidang-bidang studi tersebut kemudian diproyeksikan dalam konteks Sejarah Indonesia pada umumnya dan Sejarah Kesenian pada khususnya.

Periodisasi Sejarah Tari Indonesia terkait dengan periodisasi Sejarah Kesenian yang pada dasarnya terbagi sebagai berikut :

1) Kesenian Jaman Prasejarah (mulai sebelum abad Masehi).

2) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Hindu (mulai abad 1 Masehi).

3) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Islam (mulai abad 13 Masehi).

4) Kesenian yang mendapat pengaruh Budaya Eropa (mulai abad 15 Masehi).

5) Kesenian Jaman Pergerakan Nasional (mulai awal abad 20 Masehi).

6) Kesenian pada Masa Kemerdekaan (mulai 17 Agustus 1945).

Itulah antara lain yang sekurang-kurangnya harus diperhatikan ketika membicarakan tari-tarian di Indonesia. Namun membicarakan tentangnya pada dasarnya meliputi ruang lingkup yang sangat luas, sangat bervariasi dan multi kompleks. Misalnya tari-tarian dari jaman prasejarah hidup berdampingan dengan tari-tarian dari jaman-jaman lainnya maupun dengan berbagai ekspresi jaman kini.

Selain itu kalau kita bicara mengenai masyarakat Indonesia yang mendiami kepulauan Nusantara ini, ia mempunyai sifat plural yang besar dalam hal bahasa dan kebudayaan. Menurut variasi kebudayaannya, mereka dapat digolongkan menjadi bentuk kesatuan sosial yang disebut suku-bangsa. Namun demikian jumlah suku-bangsa di Indonesia itu sukar dihitung karena konsep suku-bangsa dapat mengembang atau menyempit menurut keadaan secara subyektif. Belum lagi kalau kita menggolongkannya sampai pada bentuk kesatuan sosial yang disebut sub suku-bangsa.

Oleh karena itu sudah selayaknyalah jika sekurang-kurangnya masyarakat Indonesia itu dapat mengenal salah sebuah tarian yang mewakili salah satu suku-bangsa atau sub suku-bangsa yang ada di Indonesia; sekaligus tarian mana dapat dianggap sebagai atribut penunjuk dan pembeda identitas kesuku-bangsaannya, seperti tari Seudati untuk Aceh, Topeng Cirebon untuk sub suku-bangsa Jawa-Indramayu, dan sebagainya. Sehubungan dengan hal itu dalam kesempatan ini  penulis tidak bermaksud untuk membicarakannya satu persatu. Untuk maksud itu ada beberapa literatur yang dapat memberikan informasi tentangnya (lihat bibliografi).

Hakekat Seni Tari

Secara universal kebudayaan suatu masyarakat manusia terdiri dari tujuh unsur. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut satu sama lain saling berkaitan, saling mempengaruhi dan merupakan satu kesatuan yang utuh; sehingga ketujuh unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk sebuah sistem. Dengan demikian unsur kebudayaan kesenian merupakan salah sebuah komponen pembentuk kebudayaan suatu masyarakat. Unsur kebudayaan ini tentu saja berkaitan erat dengan unsur-unsur kebudayaan yang lain seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi serta sistem religi. Karena keberadaan kesenian sangat terkait erat dengan aspek-aspek kehidupan yang lain maka sebagai konsekuensi logisnya jika seseorang hendak memahami kesenian, ia juga harus memahami aspek-aspek kehidupan yang lain, termasuk juga cabang-cabang kesenian lain yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. Itulah pengertian dan penerapan pendekatan holistik pada pemahaman kesenian.

Pengertian pendekatan holistik juga dipakai untuk memandang sebuah cabang seni itu sendiri, dalam hal ini seni tari. Artinya, karena yang dimaksud dengan tari bukan sekedar kumpulan gerak indah saja, tetapi mencakup unsur tari lainnya, maka sejumlah unsur tari itu juga merupakan satu kesatuan yang utuh bahkan mempunyai hubungan satu sama lain yang serasi dan harmonis sehingga sarat dengan nilai-nilai keindahan. Unsur-unsur tari tersebut meliputi seperangkat busana tari, ragam hias pada busana tari, tata rias tari, properti dan aksesori yang dipakai, musik dan alat yang dipakai untuk mengiringi, tata dan teknik pentas, makna yang melatar-belakangi keseluruhan tari, dan yang paling cocok adalah serangkaian gerak baik yang mengandung makna maupun gerak-gerak kembangan (stilisasi). Itu semua harus dipandang secara holistik dan sistemis. Sehubungan dengan hal itu dalam kesempatan ini ada baiknya jika pertama-tama kita sepakati dahulu pengertian tari. Mengenai pengertian tari, sebenarnya sudah banyak ahli yang mengungkapkannya dari beragam sudut pandang seturut dengan disiplin ilmu yang dikuasainya. Namun demikian dari sejumlah batasan yang coba mengupas tari, terdapat unsur-unsur dan ciri-ciri dalam tari yang selalu hadir dalam setiap batasan. Unsur-unsur tersebut adalah gerak, ruang, ritme, pesan dan nilai estetis. Adapun ciri-ciri yang terkandung dalam tari antara lain adalah ekspresi manusia manusia secara artistik; gerak yang dilakukan oleh manusia; gerak yang berpola, gerak stilisasi dan distorsi; mengandung ritme; di dalam ruang; mengandung pesan dan mengandung simbol.

Dari unsur-unsur dan ciri-ciri tersebut dapat dibuat sebuah batasan tari yakni: tari adalah hasil karya kreatif manusia yang diwujudkan melalui gerak tubuh manusia, disusun secara artistik dengan memperhatikan kaidah-kaidah keindahan di dalam ruang berdasarkan ritme tertentu dan mengandung pesan atau makna tertentu baik secara tersurat maupun tersirat. Itulah yang dikenali sebagai tari oleh masyarakat pendukungnya. Artinya, dalam hal ini tari dipandang sebagai sebuah seni pertunjukan yang ditonton oleh masyarakat pendukungnya.
Dengan demikian, dalam hal ini kesenian dipandang sebagai salah sebuah unsur kebudayaan. Secara umum orang sering menyatakan bahwa kesenian adalah ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Sebenarnya tidak semua karya seni dapat dikatakan demikian, karena ada karya seni yang lebih mengutamakan pesan budaya yang mengandung nilai budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Hal ini berarti masyarakat yang bersangkutan bermaksud menjawab atau menginterpretasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mendambakan kemakmuran, kebahagiaan dan rasa aman, serta rasa kecewa dan sedih, dalam bentuk karya seni; sehingga karya seni itu sarat dengan berbagai makna yang tersirat di belakang obyek tadi; yang acapkali bersifat simbolis. Itulah beberapa hal yang seyogyanya kita perhatikan manakala hendak memahami seni tari dalam konteks kebudayaan dan masyarakat pendukungnya. Sekarang marilah kita tilik bersama bagaimana dan sampai sejauh mana perkembangan tari di Indonesia kini.

Salah satu tulisan yang memberikan ilustrasi yang paling baik dari guna sejarah tari dalam menambah pemberian klarifikasi konsep antropologi dalam perubahan social budaya adalah studi banding yang dilakukan Kealiinohomoku atas tarian Bali dan Hawaii.

Karena tari adalah bagian dari kebudayaan, tari merupakan subjek yang memiliki kekuatan yang serupa dalam perubahan seperti pada aspek kebudayaan yang lain. Tari mungkin berubah dalam bentuk, fungsi, atu kedua-duanya, dan perubahan dalam wilayah initerjadi secara bebas. Apakah ayunan gerak perubahan itu terjadi dalam suatu gaya tari secara khusus, kita bisa mempelajarinya. Tentang tarian ini bentuk dasarnya ada sekitar pertengahan abad ke Sembilan belas. Bahkan kemudian, hal ini menunjukkan dengan jelas adanya elemen-elemen asing seperti misalnya modifikasiwalz

dan fandango. Kita bisa menetapkan delapan ciri yang kiranya bisa merupakan potensi daya hidup tari.

  1. Adanya keluwesan dalam pengertian penyajiannya yang lebih dari satu fungsi.
  2. Adanya keluwesan dalam pengertiantidak terikat secara eksklusif dalam suatu institusi apapun.
  3. Adanya keluwesan dalam pengertian tidak terbatas pada sekelompok elit tertentu berkenaan dengan pertunjukan atau penontonnya.
  4. Adanya sejumlah kaitan dengan aspek-aspek kebudayaan yang lain.
  5. Adanya struktur yang membolehkan adanya improvisasi dan modifikasi.
  6. Memiliki cirri menghibur atau memiliki pasaran secara potensial.
  7. Memiliki potensi untuk menggarisbawahi identitas dalam situasi kontak dengan budaya lain.
  8. Memiliki kemampuan untuk merubah dari suatu bentuk tari yang menghibur menjadi tarian yang bersifat resmiatau sebaliknya.