Menguak Sejarah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Sejarah Kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Maritim Terbesar
November 13, 2016
Mengulas Sejarah Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Kurban)
November 16, 2016

Menguak Sejarah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Jika berbicara tentang sejarah hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928, tidak bisa lepas dari perjuangan bangsa Indonesia yang saat itu sedang terjajah oleh pasukan Belanda. Sumpah pemuda merupakan salah satu kejadian penting dalam Sejarah Nasional. Sumpah ini dianggap sebagai perwujudan semangat pembentukan Indonesia yang satu. Sumpah ini sendiri merupakan keputusan Kongres Pemuda Kedua pada tangga 27 dan 28 Oktober 1928 di Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. Sumpah tersebut berisikan harapan munculnya tanah air, bahasa, dan bangsa Indonesia.

Latar Belakang Hari Sumpah Pemuda
Peristiwa bersejarah tentang hari sumpah pemuda merupakan salah satu rangkaian kejadian dimana mulai muncul rasa dan semangat persatuan dan kesatuan, serta nasionalisme dan kesadaran untuk mendirikan Indonesia yang satu, dimana rasa ini tidak pernah muncul sebelumnya saat Belanda dan Jepang menduduki Indonesia. Ada dua peristiwa penting yang menandai masa tersebut, yaitu berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Masa ini juga disebut sebagai dampak politik etis pasca Multatuli.

Menguak Sejarah Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Rasa yang mulai timbul di hati setiap masyarakat Indonesia ini diperkirakan muncul karena berbagai faktor, seperti misalnya urbanisasi, komunisme, Islam, edukasi, entertainment seperti film, teater, dan musik kroncong, hingga perlakuan rasis dari orang-orang Belanda. Hal ini mendorong individu-individu intelektual seperti Kartini, Tirto, dan Semaun untuk bersuara dan menggaungkan ide persatuan yang nantinya menjadi topik pembicaraan dan membentuk acara sumpah pemuda. Orang-orang tersebut mulai menyuarakan kebebasan dan nasionalisme, yang pada akhirnya mendorong pihak Belanda untuk melarang kebebasan berpendapat dan kebebasan berkumpul. Karena larangan ini, hanya sedikit mereka yang berani bersuara melawan kolonialisme Belanda, dan perlawanan dapat di kontrol.

Pada awal abad ke-20, angka pendidikan di Indonesia sangat kecil, dan pada masa ini politik etis mengambil peranan penting dalam meningkatkan angka pendidikan di Indonesia. Meskipun tidak secara nasional memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, keputusan tadi memberikan kesempatan belajar bagi para anak-anak elit Indonesia dengan niat awalnya adalah agar para anak-anak tadi bekerja untuk birokrasi kolonial yang sedang hidup. Sialnya, sistem edukasi ala barat ini juga membawa ide-ide politik kebarat-baratan tentang demokrasi dan kebebasan.

Pada tanggal 20 Mei 1908, Boedi Oetomo sebagai organisasi pemuda didirikan oleh Dr. Soetomo dan menjadi gerakan pertama yang membuka jalan menuju peringatan sumpah pemuda. Pemimpin utama dari organisasi ini adalah Wahidin Soedirohoesodo yang pada akhirnya mundur karena berdasarkan pertemuan pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta pada Oktober 1908, pemudalah yang harus turun tangan. Pada tahun 1912, Indische Partij didirikan oleh Douwes Dekker dan kawan-kawan. Indische Partij merupakan organisasi politik pertama yang memperkenalkan konsep nasionalisme Indonesia, dan nantinya mengilhami organisasi lain seperti Nationaal Indische Partij dan Indo Europeesch Verbond pada 1919. Pada tahun yang sama dengan Indische Partij, Sarekat Islam didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta. Sarekat Islam lebih condong ke arah Islam dan kejawen sehingga elemen pemersatu mereka hanyalah embel-embel Islam. Sayangnya, daripada anti-Belanda, Sarekat Islam dinilai lebih anti-Tiongkok. Pada 18 November di tahun yang sama, Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

20 Juli 1913, Ais ik eens Nedernader was ditulis oleh Suwardi Suryaningrat sebagai bentuk protes kepada pemerintah kolonial Belanda yang berniat mengadakan pesta memperingati 100 tahun kemerdekaan mereka. Protes ini membuat Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi diadili dan dibuang ke Kepulauan Banda, namun mereka diberi pilihan lain untuk pergi ke Belanda dimana Suwardi akhirnya mengejar ilmu di bidang pendidikan dan Tjipto jatuh sakit hingga harus dipulangkan ke Indonesia.

Pad tahun 1918, Volksraad berkumpul untuk pertama kalinya setelah didirikan pada tahun 1916. Anggotanya ada 39 orang dan 15 di antaranya merupakan orang asli Indonesia. Pada tahun ini, pemerintah Belanda setuju bahwa di masa depan nanti, Indonesia akan diberikan kebijakan untuk memiliki pemerintahan sendiri, tapi setelah itu tidak ada kabar yang menjelaskan lebih lanjut.

Baru pada tanggal 1920 kata “Indonesia” digunakan sebagai kata yang melambangkan persatuan rakyat. Kata tersebut dibentuk oleh seorang naturalis Inggris demi melakukan klasifikasi etnis dan area geografis. Katanya lagi, sebelumnya Youth Alliances pernah berbicara tentang negara Bali, negara Jawa, negara Sumatra, dan lain-lain, tapi sekarang mereka menyebutnya Indonesia. Pada tahun 1927, Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung, dan merupakan partai pertama dengan seluruh anggotanya orang Indonesia yang fokus membahas tentang pembebasan dari pemerintahan Belanda dan mencapai kemerdekaan. Pada tanggal 28 Oktober, akhirnya terciptalah Sumpah Pemuda dimana All Indonesian Youth Congress memutuskan satu tujuan nasional.

Perkumpulan pertama kongres Pemuda Indonesia diadakan di Batavia, ibukota Dutch East Indies pada tahun 1926, yang sayangnya tidak menelurkan keputusan apapun tapi mencetuskan ide tentang Indonesia yang bersatu. Baru pada Oktober 1928, pertemuan kedua digelar di tiga tempat yang berbeda. Sesi pertama berharap bahwa kongres pemuda akan menginspirasi rasa persatuan, sementara sesi kedua membahas tentang isu-isu pendidikan yang ada. Sesi ketiga dan sesi terakhir diadakan di Jalan Kramat Raya nomor 126, dimana para partisipan untuk pertama kalinya mendengar lagu nasional Indonesia Raya yang diciptakan oleh Rudolf Supratman dan ditutup dengan pembacaan sumpah pemuda. Kejadian inilah yang kemudian menjadi sejarah hari sumpah pemuda 28 Oktober 1928.