Sejarah dan Asal Usul Bahasa Indonesia
November 3, 2016
Informasi Penting Tentang Sejarah Perkembangan Komputer
November 5, 2016

Sejarah Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh yang juga dikenal sebagai Kesultanan Aceh atau secara resmi Kerajaan Aceh Darussalam dimulai pada tahun 1496 dan bertahan hingga tahun 1903 sebelum akhirnya kalah oleh Belanda dalam perang Aceh pada tahun tersebut. Kerajaan Aceh bertempat di yang sekarang menjadi provinsi Aceh, dan merupakan kekuatan besar di daerah itu pada abad 16 dan 17. Tempat yang dipilih sebagai ibukota adalah Kutaraja yang sekarang menjadi Banda Aceh.

Perjalanan Kerajaan Aceh
Meski tidak ada kejelasan tentang awal berdirinya kerajaan ini, ada satu versi yang menyebutkan bahwa Kesultanan Aceh didirikan oleh orang-orang Cham yang pada masa sekarang tersebar di Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa bahasa Aceh merupakan satu dari 10 bahasa yang tergabung dalam kelompok bahasa Aceh-Chamic. Menurut sejarah Melayu, raja Champa yang bernama Syah Pau Kubah saat itu memiliki anak yang kabur ketika Vijaya dihabisi oleh dinasti Le dari Vietnam di tahun 1471. Syah Pau Kubah inilah yang dipercaya membentuk kerajaan Aceh nantinya.

Sejarah Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh berubah menjadi kesultanan, meski begitu, memiliki sejarah yang jelas. Pada pertengahan abad ke-15, pemimpin Aceh beralih menganut agama Islam, dan kemudian Kesultanan dibentuk oleh Ali Mughayat Syah yang memulai perluasan daerah kekuasan di Sumatera Utara pada tahun 1520. Penguasaan area ini termasuk di dalamnya Deli, Pasai, dan Pedir, dimana ia juga menyerang Aru. Ketika anak dari Ali Mughayat, Alauddin al-Kahar mengambil alih kekuasan pada tahun 1571, perluasan kekuasaan lagi-lagi dilakukan lebih jauh ke bagian selatan Sumatera meskipun kurang begitu berhasil. Penyerangan lainnya juga ia lakukan ke area Johor dan Malaka dengan bantuan dari Kerajaan Ottoman yang mengirimkan 15 Xebec (sebuah kapal layar dengan bowsprit yang panjang, biasa digunakan untuk berdagang) dipimpin oleh Kurtoglu Hizir Reis.

Adanya perpecahan di dalam Kesultanan mencegah lahirnya Sultan baru hingga pada saat Iskandar Muda naik di tahun 1607. Saat itu, bisa dibilang Kesultanan Aceh mencapai titik puncaknya dimana daerah kerajaan terus diperluas hingga hampir seluruh Sumatera. Sultan Iskandar Muda juga mampu mengambil alih Pahang, sebuah daerah yang memproduksi timah di Semenanjung Malaya. Pada masa pemerintahan ini juga Kesultanan Aceh menjadi musuh kuat bagi Johor dan Malaka yang saat itu ada di bawah kendali Portugis. Ketakutan Johor dan Portugis ini mendorong mereka untuk bekerjasama dan menghancurkan seluruh kapal dan 19.000 prajurit Aceh saat mereka berencana mengambil alih Malaka di tahun 1629.

Kekalahan Aceh di tahun 1629 membuat kemampuan perang Kesultanan tersebut berkurang jauh, meski begitu kerajaan Aceh tidak berhenti sampai disitu karena Iskandar Thani yang saat itu adalah menantu dari Sultan Iskandar Muda dan pangerang Pahang mengambil alih kekuasaannya. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, kesultanan Aceh mengambil pendekatan berbeda dan lebih terfokus untuk menyelesaikan konflik internal dan persatuan keagamaan.

Setelah kekuasaan Sultan Iskandar Thani berakhir, Aceh mulai dipimpin oleh beberapa Sultan, yaitu Sultan perempuan. Polis Aceh terdahulu yang mengambil tawanan dari daerah yang dikuasi membuat daerah-daerah tersebut menginginkan kemerdekaan. Gerakan permintaan kemerdekaan ini secara besar-besaran melukai kekuatan kontrol Aceh dan memberi penguasa-penguasa daerah kekuatan yang lebih besar, membuat Sultan hanya menjadi simbol. Pada tahun 1680-an, seorang tamu dari Persia menggambarkan daerah Sumatera Utara sebagai daerah dimana setiap sudut memiliki raja kecil atau gubernur yang memiliki aturan sendiri dan tidak membayar upeti kepada otoritas yang lebih tinggi darinya.

Pendudukan Belanda
Pada tahun 1820 saat Aceh memproduksi setengah dari supply merica dunia, Tuanku Ibrahim berhasil mengembalikan sedikit integritas Kesultanan dengan cara mengambil alih penguasa merica dengan cara membuat mereka melawan satu sama lain. Tuanku Ibrahim akhirnya melanjutkan estafet kerajaan Aceh menggantikan kakaknya Muhammad Syah dan mendominasi kekuasan penerusnya, yaitu Sulaiman Syah. Pada masa pemerintahannya, Tuanku Ibrahim berubah namanya menjadi Sultan Ali Alauddin Mansur Syah dan melebarkan kekuasaannya tepat saat Belanda sedang melakukan konsolidasi kekuasaan mereka ke arah utara.

Kekuasaan Aceh pada masa-masa ini diperkuat dengan bantuan Inggris yang berusaha menjauhkan Aceh dari genggaman Belanda. Cara yang digunakan adalah mere-evaluasi polis mereka dan membuat perjanjian Anglo-Dutch yang memperbolehkan Belanda mengontrol Sumatera dengan imbalan Gold Coast dan hak berjual beli di Aceh Utara. Perjanjian ini diakhiri dengan deklarasi perang terhadap Aceh, dan akhirnya disusul oleh Perang Aceh pada 1873. Saat bersiap-siap untuk perang, Mahmud Syah meminta bantuan internasional, tapi tak ada yang mau ataupun bisa membantu.

Pada 26 Maret 1873, Johan Harmen Rudolf Kohler membombardir Banda Aceh dan berhasil menduduki hampir seluruh daerah pantai pada bulan April. Pada saat ini lah Sultan meminta bantuan militer dari Italia dan Inggris yang berada di Singapura dan berhasil meningkatkan angka prajurit mereka. Karena meremehkan kemampuan perang masyarakat Aceh, tentara Belanda mengalami kekalahan dan Kohler terbunuh bersama 80 orang prajurit. Perang kembali terjadi pada November 1873 dengan 13.000 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jan van Swieten melakukan ekspedisi militer lagi ke Aceh. Invasi kali ini terjadi bersamaan dengan serangan kolera yang menewaskan ribuan jiwa di kedua belah pihak. Pada Januari 1874, kondisi Sultan Mahmud Syah menjadi semakin buruk dan pengikutnya mulai meninggalkan Banda Aceh untuk menuju area yang lebih aman. Ketika tewas, Kesultanan mengangkat Tuanku Muhammad Daud menjadi penerusnya. Sayangnya, pada masa ini sudah banyak penguasa daerah yang menyerah pada kekuatan Belanda meskipun masih terus memberi biaya pada Kesultanan. Kekalahan Kesultanan Aceh juga menutup sejarah kerajaan Aceh yang tak lagi memiliki penerus meskipun perang terus terjadi.