Sejarah Wali Songo – 9 Wali Penyebar Islam di Jawa

Sejarah Kisah Cerita Nyi Roro Kidul
October 17, 2016
Sejarah Asal Usul Tari Piring serta Perkembangannya
October 19, 2016

Sejarah Wali Songo – 9 Wali Penyebar Islam di Jawa

Perjalanan Sejarah Wali Songo dimulai sekitar abad ke-14, dimana saat itu mereka dikenal sebagai penyebar Islam di tanah Jawa. Ke-9 orang yang tergabung dalam wali songo ini memutuskan untuk tinggal di wilayah-wilayah penting di sekitar pantai utara Jawa. Daerah penting pertama terletak di Jawa Timur yaitu Surabaya, Lamongan, Tuban, dan Gresik. Jawa Tengah menjadi titik yang mereka anggap penting, terdiri dari Demak, Kudus, dan Muria. Daerah terakhir yang menjadi tempat tinggal mereka adalah Cirebon yang mewakili daerah Jawa Barat. Masa munculnya Wali Songo menandakan berakhirnya era dimana Hindu-Buddha menjadi agama mayoritas dan secara perlahan mulai terganti oleh budaya Islam. Wali Songo sendiri merupakan simbolisasi penyebaran Islam di Indonesia, terutama di pulau Jawa.

Sejarah Wali Songo - 9 Wali Penyebar Islam di Jawa

Sejarah Wali Songo
Sejarah mengenai Wali Songo tidak tercatat dengan baik, meski begitu, ada satu pendapat yang berkembang di masyarakat bahwa mereka merupakan sebuah majelis dakwah yang berdiri pada tahun 1404 oleh Maulana Malik Ibrahim yang kemudian berganti nama menjadi Sunan Gresik. Terbentuknya Wali Songo ini dipercaya membawa angin baru pada peradaban masyarakat Jawa, terutama dalam bidang cocok-tanam, perniagaan, kesehatan, kesenian, kemasyarakatan, kebudayaan, bahkan hingga budaya pemerintahan.

Asal nama Wali Songo sendiri menuai berbagai perbedaan di kalangan masyarakat dan alim ulama. Salah satu pendapat yang berhembus adalah bahwa Wali Songo berarti wali yang sembilan, dimana sanga atau songo merupakan bahasa Jawa bagi sembilan. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Wali Songo tidak berasal dari bahasa Jawa sama sekali, melainkan dari kata tsana yang berarti mulia dalam bahasa Arab, membuat Wali Songo berarti wali yang mulia, atau utusan dari yang mulia (Tuhan). Pendapat lainnya mengatakan bahwa kata songo merupakan perubahan dari kata sono/sana yang berarti tempat dalam bahasa Jawa.

Sejarah Wali Songo dimulai dengan Sunan Gresik yang tidak tercatat bukti sejarah tentang asal keturunannya. Kesepakatan yang ada pada masyarakat adalah Sunan Gresik tidak berasal dari Jawa, dan sebutan Syekh Maghribi dari masyarakat mungkin menandakan daerah asalnya, yaitu dari area Arab Maghrib, Afrika Utara. Dalam Babad Tanah Jawi versi J. J. Meinsma, nama yang diberikan pada Sunan Gresik adalah Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang oleh orang Jawa diucapkan sebagai Makhdum Ibrahim Asmarakandi. J. J. Meinsma juga memperkirakan bahwa Sunan Gresik dilahirkan di Asia Tengah, tepatnya Samarkand di awal-awal abad ke-14. Raffles juga menuliskan tentang Sunan Gresik pada bukunya, History of Java, dimana Sunan Gresik dikenal sebagai keturuan Jenal Abidin, berasal dari daerah di Arabia, serta sepupu dari raja di Chermen dan sedang menetap bersama Mahomedans di Jang’gala, Desa Leran.

Wali kedua adalah Sunan Ampel yang juga dikenal sebagai Raden Rahmat. Wali kedua ini diperkirakan lahir di Champa, yang menurut Encyclopedia Van Nederlandesh Indie terdapat di Kamboja sementara menurut Raffles, Champa merubakan sebuah tempat di Aceh yang kini namanya berubah menjadi Jeumpa. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Sunan Ampel merupakan keturunan Tiongkok dan dikenal dengan nama Bong Swi Hoo, cucu dari seorang suku Hui Islam bernama Haji Bong Tak Keng yang saat itu bertugas sebagai pemimpin komunitas Tiongkok Champa. Sunan Ampel mendirikan sebuah masjid di Demak pada tahun 1479 dan dikenal sebagai Masjid Agung Demak. Penerusnya di Demak adalah Sunan Demak, anaknya sendiri.

Raden Maulana Makdum Ibrahim lahir pada tahun 1465, dan merupakan wali ketiga dengan nama Sunan Bonang. Ia merupakan putra dari pasanang Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Nama Sunan Bonang sendiri diperkirakan adalah sebutan lokal dari nama Bong Ang, sama dengan marga Ayahnya, Bong Swi Hoo. Sunang Bonang memiliki kelebihan dalam bidang penggubahan sastra berbentuk suluk, dimana salah satu karyanya yang terkenal adalah sebuah tembang dengan judul Tombo Ati yang hingga saat ini masih sering didendangkan oleh orang-orang. Karya lainnya yang populer dikalangan santri-santri adalah sebuah kitab setebal 234 halaman bernama Tanbihul Ghofilin, kitab yang berisi tentang ilmu tasawuf.

Sejarah Wali Songo berlanjut dengan masa dakwah dari Sunan Drajat yang lahir pada tahun 1470 dengan nama Raden Qasim. Wali keempat ini merupakan putra lainnya dari Sunan Ampel, membuatnya bersaudara dengan Sunan Bonang. Salah satu penacapaian dari Sunan Drajat adalah pendirian sebuah pesantren di desa Drajat, Lamongan, yang bernama pesantren Dalem Duwur. Menurut perkiraan, Sunan Drajat tutup usia pada tahun 1552.

Wali berikutnya adalah Sunan Kudus yang lahir dengan nama Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan pada tanggal 9 September 1400. Ayah dari Sunan kudus merupakan anak laki-laki dari seorang Sultan yang ada di Palestina, dan memiliki nama Sayyid Fadhal Ali Murtazha. Sunan Kudus memilih untuk melakukan pendekatan kultural yang amat kuat demi menampilkan warisan dan tanda dakwahnya.

Sunan Giri yang merupakan wali ke-6 merupakan pendiri dari Giri Kedaton dan murid dari Sunan Ampel. Keberhasilan Sunan Giri nampakn dari berdirinya Pesantren Giri yang menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa. Pengaruh ajaran di Pesantren Giri kemudian menyebar hingga Maluku.

Sejarah Wali Songo berlanjut dengan Sunan Kalijaga, putra dari Raden Sahur, seorang adipati Tuban. Sunan Kalijaga merupakan murid dari Sunan Bonang dan menggunakan seni dan budaya seperti wayang dan suluk sebagai sarana dakwahnya. Perjuangan Sunan Kalijaga dilanjutkan oleh putranya, Sunan Muria yang juga anggota Wali Songo. Wali terakhir dalam Wali Songo adalah Sunan Gunung Jati yang juga dikenal sebagai Syarif Hidayatullah, putra dari Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Pada masanya, Sunan Gunung Jati menjadikan Cirebon pusat dakwah Islam.