Peristiwa Merah Putih di Manado
October 8, 2016
Sejarah Pertempuran Medan Area
October 10, 2016

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara dibangun pada tahun 358 dan merupakan sebuah kerajaan bercorak Sunda-India. Bukti tertulis pertama tentang kerajaan Tarumanegara ini bisa ditemukan pada sebuah batu monumen. Raja kelima dari kerajaan ini yang bernama Purnawarman diketahui sebagai orang pertama yang membuat prasasti di pulai Jawa. Lokasi kerajaan ini diperkirakan tidak jauh dari Jakarta sekarang, dan menurut prasati Tugu, Purnawarman menciptakan sebuah kanal yang mengubah arus sungai Cakung, dan mengeringkan sebuah daerah pantai untuk tempat tinggal dan sebagai daerah pertanian.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Sejarah Kerajaan Tarumanegara
Menurut sebuah buku berjudul Nusantara, dipercaya bahwa kerajaan Tarumanegara dibangun pada tahun 358 dengan Maharshi Rajadirajaguru Jayasingawarman sebagai pendiri sekaligus raja pertamanya. Jayasingawarman ini pada awalnya merupakan seorang yang berasal dari dinasti Salankayana di India yang runtuh pada saat invasi Samudra gupta oleh kerajaan Gupta. Setelah akhirnya menetap di Jawa Barat, Jayasingawarman mempersunting seorang gadis Sunda yang merupakan putri dari raja Dewawarman VIII dari Salakanagara, sebuah kerajaan bercorak India di Jawa Barat. Ketika meninggal pada tahun 382, Jayasingawarman dikubur di belakang sungai Kali Gomati (sekarang menjadi kota bekasi) dan pemerintahan dipegang oleh anaknya yang bernama Dharmayawarman dari tahun 382 hingga 395. Pemerintahan Dharmayawarman dilanjutkan oleh Purnawarman pada tahun 395 hingga 434 setelah jenazah Dharmayawarman dikuburkan di sungai Chandrabaraga.

Kembali mengutup pagi Nusantara pada parwa II sarga 3 (halaman 159 hingga 162), tertulis bahwa di saat Purnawarman menjadi raja dan memegang kekuasaan penuh akan Tarumanegara, kerajaan tersebut memegang kendali akan 48 kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang tersebar dari Salakanagara atau Rajatapura menuju ke Purwalingga yang sekarang menjadi Purbalingga. Pada masa itu, yang menjadi batas daerah antara Sunda dan Jawa adalah sungai Cipamal yang sekarang bernama sungai Brebes.

Pada masa pemerintahan Purnawarman, ia membangun sebuah ibukota baru dan memperbarui kerajaan Tarumanegara dengan memindahkan pusat pemerintahan ke dekat pantai, sebuah lokasi bernama Sunda Pura yang berarti Kota Suci. Lokasi yang bernama Sunda Pura ini diperkirakaan berada pada lokasi yang berdekatan dengan Tugu di Jakarta Utara berdiri, atau Bekasi di era modern. Purnawarman juga meninggalkan 7 batu tulis yang menuliskan namanya tersebar di seluruh provinsi Jawa Barat dan Banten. Dari seluruh prasasti, yang dinilai sebagai prasasti tertua ialah prasasti Tugu meskipun hanya memiliki perbedaan satu tahun dengan prasasti Ciaruteun. Lokasi prasasti-prasasti lainnya terdapat di Bogor dan adalah:

  • Prasasti Muara Cianten 
    – Diketemukan oleh seorang bernama N.W. Hoepermans sekitar tahun 1864.
    – Berupa sebuah batu alami yang memiliki ukuran sangat besar, yaitu 2,70 x 1,40 x 1,40 meter kubik.
    – Prasasti ini berisi tentang pahatan gambar sulur-suluran untuk rambut yang ikal atau keluar dari umbi.
    – Lokasi penemuan prasasti ini adalah tepi suangai Cisadane yang dulu juga sempat disebut Pasir Muara yang memang benar karena      memang lokasi prasasti ini masuk ke wilayah-wilayah pedesaan yang bernama Pasirmuara.
  • Prasasti Pasir Awi
    – Prasasti dengan nama lain Prasasti Cemperai. Ditemukan ditahun 1864 oleh N.W. Hoepermans pula.
    – Prasasti ini dipahat pada batu alam.
    – Isi prasasti ini adalah gambar dahan, ranting, buah, serta dedaunan.
    – Lokasi penemuan prasasti Pasir Awi ini berada pada bagian selatan lereng bukit Pasir Awi, di kawasan Cipamingkis, Sukamakmur    tepatnya di antara kecamatan Jonggol dan Kecamatan Citeureup.
  • Prasati Cidanghiang
    – Ditemukan pada tahun 1947 dan pertama kali diteliti pada tahun 1954 dan merupakan hasil laporan dari Toebagus Roesjan kepada Dinas Purbakala di masa itu.
    – Prasasti Cidanghiyang ini tertulis dalam aksara Pallawa yang bentuknya disusun agar mirip bentuk seloka bahasa Sanskerta.
    – Isinya adalah tentang tanda keberanian, keagungan, dan keberanian dari raja Purnawarman.
    – Prasasti ini ditemukan di aliran sungai yang mengaliri Lebak, kecamatan Munjul. Kabupaten Pandegalang, di daerah Banten.
  • Prasasti Jambu
    – Penemu prasasti Jambu ini ialah Jonathan Rigg pada tahun 1854. Pada tahun 1947, barulah prasasti ini dilaporkan kepada Dinas Purbakala dan penulisan lainnya tentang sejarah kerajaan Tarumanegara.
    – Prasasti Jambu dibuat pada sebuah batu berukuran 2-3 minggu.
    oIsi dari prasasti Jambu merupakan dua baris huruf Pallawa, tersusun mengikuti seloka Sanskerta dengan Sragdhara sebagai mediumnya. Secara singkat, prasasti ini tidak jauh berbeda dengan Prasasti Cidanghiang tentang betapa hebatnya ia sebagai pemimpin.
    – Prasasti ini terletak di sebuah wilayah bernama Pasir Sikoleangkak, dan kampung Pasir Gintung, Prakanmuncang. Pada masa kolonial belanda, tanah ini kemudian digunakan sebagai sebuah perkebunan.

Setelah wafat, nama yang paling terkenal dalam sejarah kerajaan Tarumanegara adalah Purnawarman. Hal ini diakibatkan banyaknya prasasti buatannya sendiri yang dapat didokumentasikan. Catatan-catatan tentang raja-raja terakhir di Tarumanegara sendiri amat sulit ditemukan, dan akhirnya pengetahuan tentang mereka hanya didapat dari tradisi lokal. Salah satu nama lain yang cukup terkenal adalah Suryawarman yang memerintah dari tahun 535 hinnga 561. Suryawarman membangun ibukota baru di area timur dan meninggalkan Sundapura dan komunitas yang ada di dalamnya untuk hidup mandiri dan membuat pemerintahan mereka sendiri.

Raja lainnya yang cukup terkenal dalam sejarah kerajaan Tarumanegara adalah Kertawarman yang memerintah sejak tahun 561 hingga tahun 628. Pada masa pemerintahan Kertawarmanlah Wretikandayun menciptakan kerajaan Galuh yang berlokasi di tenggara Garut dengan ibukota yang ada di Banjar Pataruman. Penerus Kertawarman, Linggawarman, memerintah dari tahun 628 hingga tahun 650, tapi tidak memiliki anak laki-laki. Anak perempuan Linggawarman kemudian menikahi Tarusbawa yang pada saat itu merupakan pemimpin dari Sunda Sembawa. Sementara itu, putri kedua memilih untuk menikahi Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang nantinya akan membangun Kerajaan Sriwijaya.