Sejarah Musik Campur Sari
October 5, 2016
Sejarah Dibalik Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki
October 7, 2016

Sejarah Terbentuknya Danau Kelimutu – Danau 3 Warna

Indonesia merupakan sebuah negara dengan banyak pusat wisata, dan Danau Kelimutu yang terletak di pulau Flores, merupakan tempat yang menjadi tujuan wisata orang-orang baik di dalam maupun di luar negeri. Yang membuat danau yang ada di gunung dengan nama sama di Desa Pemu, Kelimutu ini adalah karena ketiga danau yang ada dalam satu kawah ini memiliki tiga warna yang berbeda-beda. Sangat sedikit literatur ilmiah danau Kalimutu ini, menyebabkan segala sesuatu yang berbau ilmiah kalah dengan unsur mistis dan hikayat tradisional yang berkembang di masyarakat.

Sejarah Terbentuknya Danau Kelimutu – Danau 3 Warna

Literatur Ilmiah Danau 3 Warna
Meskipun hampir tidak ada literatur ilmiah tentang sejarah terbentuknya danau Kelimutu – danau 3 warna ini, tidak menghentikan pembelajaran tentang danau yang warnanya selalu berubah-ubah tersebut. Sejak pertama kali ditemukan oleh seorang komandan militer Belanda bernama B. van Suchtelen pada tahun 1915, Kelimutu mulai menyambut ketenarannya terutama setelah Y. Bouman melukiskannya lewat tulisan di tahun 1929. Karena tulisan tersebut, mulai banyak wisatawan, terutama wistawan asing yang datang demi menikmati keindahan danau. Keindahan dan keunikan tiga warna dari danau ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tapi juga peneliti yang merasa kurangnya literatur ilmiah tentang danau ini. Bagi masyarakat sekitar Kelimutu, danau ini tidak lebih dari danau yang angker karena legenda masyarakat yang ada di kawasan tersebut.

Nama Kelimutu sendiri dipercaya adalah gabungan dari kata keli yang memiliki arti gunung, dan kata mutu yang berarti mendidih. Secara harfiah, Kelimutu dapat diartikan sebagai “gunung mendidih” dengan warna air yang berbeda. Warna-warna yang ada adalah biru, merah, dan hijau. Nama dari danau yang berwarna biru adalah Tiwu Ata Bupu/Mbupu yang berarti “danau orang tua”. Sedangkan untuk danau warna hijau namanya Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, yang memiliki arti “danau muda-mudi”. Danau yang terakhir dan memiliki warna merah disebut Tiwu Ata Polo, danau sihir.

Danau 3 warna ini amat menarik bagi para ahli geologi, karena meskipun mereka ada dalam bagian gunung api yang sama, warna yang dihasilkan oleh ketiga danau ini bisa berbeda. Penjelasan dari petugas lokal yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah perubahan warna ini merupakan hasil dari reaksi kimia yang muncul dari mineral-mineral di dasar danau yang mungkin terpicu oleh aktivitas gas vulkan. Danau ini sendiri telah menjadi sumber dari erupsi phreatic di masa lalu, dengan puncak summit yang tingginya mencapai 1639 m.

Pada masa-masa awal pengembangan taman nasional di area Kelimutu, terjadi beberapa masalah dengan komunitas lokal tentang penggunaan sumber daya yang ada. Meki begitu, sekarang para forest ranger sudah mulai membangun hubungan yang cukup baik dengan masyarakat desa sekitar, dan dari sisi manajemen juga menjadi jauh lebih baik. Kelimutu sendiri merupakan satu dari pegunungan yang disebut ribu, yaitu kelompok gunung dengan tinggi lebih dari 1.000 m. Untuk akses ke Kelimutu sendiri salah satu yang paling mudah adalah menggunakan pesawat dari Bali menuju bandar udara Ende, dimana kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil dari Ende ke Mondi yang membutuhkan waktu 3 jam. Dari Moni, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan dari taman Kelimutu sejauh 13 km yang ditempuh selama 45 menit.

Legenda Masyarakat Tentang Kelimutu
Selain dari sumber-sumber ilmiah, sejarah terbentuknya danau Kelimutu – danau 3 warna juga ada dalam hikayat masyarakat sekitar. Pada kisah ini, diceritakan bahwa di masa lalu, puncak gunung Kelimutu yang disebut juga dengan nama Bhua Ria yang berarti “hutan lebat penuh awan”, tinggallah Konde Ratu dengan rakyat-rakyatnya. Dari kumpulan rakyat tersebut, ada dua orang yang menonjol yaitu Ata Polo, seorang penyihir yang dinilai kejam karena suka memangsa manusia, dan Ata Bupu, seorang yang amat senang berbelas kasih dan satu-satunya yang mampu menangkal sihir milik Ata Polo. Meskipun keduanya memiliki kemampuan sihir yang luar biasa dan sifatnya bertolak belakang satu sama lain, mereka berdua berteman baik dan hormat pada Konde Ratu.

Di masa itu, kehidupan yang terjadi di Bhua Ria sama seperti kehidupan di daerah lain, tenang dan biasa saja. Hal ini berubah ketika sepasang Ana Kalo (yatim piatu) datang dan meminta tolong kepada Ata Bupu untuk melindungi mereka karena kedua orang tuanya telah tiada. Hal ini disetujui Ata Bupu dengan syarat mereka tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Bupu, takut mereka akan menjadi mangsa Ata Polo.

Kecemasan Ata Bupu terbukti ketika Ata Polo datang menjenguk dan mencium bau mangsa yang keluar dari kedua Ana Kalo. Ata Bupu memohon pada Ata Polo untuk paling tidak menunggu mereka dewasa sebelum memangsanya. Ketika dewasa dan menjadi Koo Fai dan Nuwa Muri, barulah sejarah terbentuknya danau Kelimutu – danau 3 warna terbentuk. Ata Bupu mencoba menghalau Ata Polo yang berusaha sekuat tenaga untuk memangsa para Ana Kalo, dan sadar tidak bisa mengalahkan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk kabur ke perut bumi. Ata Polo semakin menggila dan ketika sedang mengejar dua remaja tadi, ia juga ditelan bumi, sementara para remaja tewas karena gempa dan terkubur hidup-hidup. Tak lama, dari tempat Ata Bupu kabur ke perut bumi menyembul air berwarna biru yang diberi nama Tiwu Ata Bupu. Di tempat tewasnya Ata Polo juga keluar air, tapi berwarna merah darah dan diberi nama Tiwu Ata Polo. Sementara itu, di gua persembunyian para remaja muncul air berwarna hijau tenang dan bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai.