RSS
 

Komik – Manga

01 Jun

 
Comments Off on Komik – Manga

Posted in Uncategorized

 

Mengenal Sejarah Kesenian Reog Ponorogo

28 Sep

Sejumlah penari menampilkan seni Reog Ponorogo saat Parade Reog di Lapangan Maospati, Kab. Magetan, Jatim, Kamis (17/10). Penampilan parade Reog Ponorogo keliling tersebut bertujuan melestarikan potensi wisata budaya daerah. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/ed/ama/13

Kesenian Reog Ponorogo merupakan cabang dari tarian tradisional Reog yang dimulai kira-kira pada sekitar abad ke-15, tepatnya pada masa kerajaan Majapahit yang terakhir, dan tadinya merupakan sindiran terhadap ketidak mampuan pemimpin Majapahit pada saat itu yaitu Bhre Kertabhumi.

Asal Mula Reog Ponorogo
Sejarah mengenai asal muasal kesenian Reog Ponorogo memiliki lima versi, dan salah satu yang paling tersohor dari kelima cerita itu ialah, pada saat salah satu abdi kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Bhre Kertabhumi berniat melakukan pemberontakan pada abad ke-15, masa-masa terakhir kerajaan Majapahit. Abdi kerajaan yang bernama Ki Ageng Kutu dikisahkan sedang murka karena istri dari Bhre Kertabhumi pada masa itu berasal dari Tiongkok, dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap sang raja. Ia juga murka karena rajanya diam saja menghadapi betapa korupnya pemerintahan Majapahit pada masa itu, dan meramalkan bahwa cepat atau lambat, Majapahit akan segera berakhir.

Murka yang ada di dalam diri Ki Ageng Kutu semakin tidak tertahankan seiring berjalannya waktu, sehingga ia kemudian meninggalkan posisinya sebagai abdi kerajaan dan membuka sebuah sasana silat di mana ia kemudian mengajarkan anak-anak muda tentang seni bela diri, ilmu kekebalan, dan ilmu kesempurnaan. Pengajaran yang dilakukan oleh Ki Ageng Kutu memiliki sebuah pengharapan bahwa anak-anak muda ini nantinya bisa menjadi bibit-bibit unggul jikalau nanti Kerajaan Majapahit bisa bangkit kembali. Setelah beberapa lama berlalu, Ki Ageng Kutu mulai sadar bahwa pasukan yang ia miliki terlalu kecil jika ia ingin menggulingkan Bhre Kertabhumi dari kedudukan raja, sehingga ia menciptakan sebuah tarian yang ia beri nama Reog. Pertunjukkan Reog inilah yang kemudian menjadi cara bagi Ki Ageng Kutu untuk menciptakan sebuah kekuatan masyarakat lokal demi menggulingkan raja yang berkuasa.

Properti yang digunakan untuk pertunjukkan ini tetap sama dengan awal pertama kesenian Reog Ponorogo ini muncul, yaitu menggunakan sebuah topeng yang memiliki kepala seperti harimau atau singa yang diberi nama “Singa Barong”. Di bagian atas topeng singa ini terdapat banyak bulu-bulu merak yang bentuknya menyerupai kipas. Singa Barong ini dibuat oleh Ki Ageng Kutu untuk menggambarkan “raja hutan” atau seorang yang berkuasa, dan pada masa itu menggambarkan Kerthabumi. Bulu-bulu merak di atasnya juga menggambarkan sesuatu, yaitu teman-teman Kerthabumi yang berasal dari Tiongkok dan “ada di dalam kepalanya”, mengatur semua gerakan yang akan diperbuat oleh Kerthabumi. Ada juga beberapa orang yang memainkan Jatilan, sekelompok penari gemblak yang berkendaraan kuda sebagai simbol dari pasukan bersenjata Kerajaan Majapahit. Jatilan ini tampak kontras dengan warok yang menggunakan topeng merah.

Ketika kepopuleran Reog meningkat, Bhre Kertabumi mulai tidak senang karena ia sadar bahwa Reog merupakan cibiran tidak langsung terhadap dirinya yang menjabat sebagai raja. Tidak butuh waktu lama, Bhre Kertabumi langsung menyerang perguruan Ki Ageng Kutu dan berhasil mengakhiri pemberontakan yang akan dilakukan oleh warok. Meski begitu, murid dari perguruan Ki Ageng Kutu tetap melakukan pementasan Reog secara diam-diam karena masyarakat sudah terlanjur mencintainya, dan karena itu mereka mulai membuat cerita baru yang menambahkan beberapa karakter berasal dari cerita rakyat Ponorogo seperti Sri Genthayu, Kelono Sewandono, dan Dewi Songgolangit.

Cerita Tentang Reog Ponorogo
Sejarah mengenai kesenian Reog Ponorogo yang berkembang di masyarakat adalah sama dengan cerita yang dipentaskan dalam tarian Reog Ponorogo sendiri. Berkisah tentang seorang putri yang teramat cantik bernama Dewi Sanggalangit, seorang putri raja yang amat tersohor di Kediri. Mengingat wajahnya yang amat rupawan, banyak pangeran dan raja yang mendatanginya untuk mengajaknya menikah. Sayangnya, Dewi Sanggalangit belum tertarik untuk menikah, dan akhirnya sang Raja harus turun tangan dengan menanyakan hingga kapan Sanggalangit akan terus menolak pinangan yang datang. Sanggalangit hanya menjawab bahwa ia memiliki satu syarat yang belum ia ketahui, dan demi mengetahui syarat tersebut, ia akan melakukan semedi dan bertanya kepada dewa agar bisa mendapatkan jawaban terbaik.

Setelah empat hari, Sanggalangit akhirnya menghadap sang raja dan memberi tahu persyaratan yang sudah ia pikirkan dengan matang, yaitu calon suaminya harus bisa menciptakan sebuah tontonan menarik yang di dalamnya terdapat hewan berkepala dua dan 140 ekor kuda kembar. Mendengar syarat itu, hampir seluruh calon peminang Sanggalangit ciut nyalinya, kecuali dua orang yaitu Singabarong dari kerajaan Lodaya, dan Kelanaswandana dari kerajaan Bandarangin.

Kelanaswandana mampu mengumpulkan semua persyaratan dari Sanggalangit kecuali hewan berkepala dua, dan ketika hendak mencari hewan tersebut, ia memerintahkan patihnya untuk menyelidiki Singabarong, karena Singabarong dikenal sebagai raja yang tidak kenal ampun dan akan melakukan apapun agar bisa menang. Benar saja, ternyata Singabarong memang berniat untuk menyabotase Kelanaswandana. Segera Kelanaswandana bergerak ke kerajaan Singabarong dan mengajaknya bertempur satu lawan satu.

Ketika mereka beradu, Kelanaswandana segera mengeluarkan kesaktiannya sebelum Singabarong sempat berbuat apa-apa, menyebabkan burung merak yang sedang asyik mematuki kepalanya menempel, membuat Singabarong menjadi berkepala dua. Mengamuk, Singabarong menghunus kerisnya ke arah Kelanaswandana yang berhasil di hindari dan dibalas dengan pecutan cambuk Samandiman. Pecutan cambuk Samandiman yang sakti membuat Singabarong terpental dan berubah menjadi hewan berkepala dua, dan membuat Kelanaswandana berhasil memenuhi segala permintaan Sanggalangit. Ketika Kelanaswandana tiba di Wengker, seluruh masyarakat Wengker bersorak kegirangan melihat pertunjukkan yang disuguhkan kepada mereka, terlebih dengan adanya hewan aneh berkepala dua. Pernikahan antara Dewi Sanggalangit dan Kelanaswandana pun dilakukan, dan diabadikan sebagai catatan sejarah penting lahirnya kesenian reog ponorogo yang menjadi salah satu kesenian tradisional dari tanah Jawa.

 
No Comments

Posted in Uncategorized

 

Sejarah Berdirinya Kota Semarang

27 Sep

semarang

Sejarah berdirinya kota Semarang yang terletak di sisi pantai utara pulau Jawa ini bisa ditelusuri jauh hingga abad ke-6, dimana daerah tersebut dulunya merupakan daerah pesisir dengan nama Pragota, juga merupakan sebuah bagian dari kerajaan tua di Indonesia, yaitu kerajaan Mataram Kuno. Kini, daerah dengan total area 373.70 km3 ini memiliki populasi sebanyak 2 juta jiwa, menjadikannya kota ke-6 di Indonesia yang memiliki penduduk terbanyak, dan kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Dulu, kota Semarang merupakan sebuah kota dermaga yang besar dan maju ketika masa kolonial Belanda, dan hingga sekarang tetap menjadi daerah pusat untuk hal-hal yang berbau maritim.

Sejarah Semarang di Masa Kuno Kerajaan Indonesia
Awal Sejarah berdirinya kota Semarang dimulai pada masa dimana daerah ini masih menjadi sebuah bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Pada masa itu, daerah Semarang yang masih bernama Pragota merupakan daerah khusus pelabuhan, dimana di bagian depan dari daerah ini adalah gugusan pulau-pulau kecil yang karena terjadi pengendapan mulai menyatu dan membentuk daratan. Bagian tersebut kemudian menjadi daerah yang lebih dikenal sebagai Semarang Bawah. Pelabuhan yang dulu sempat besar ini diperkirakan ada di tempat Pasar Bulu sekarang, dan terus terbentang hingga daerah Pelabuhan Simongan dimana pada tahun 1435 pernah menjadi tempat Cheng Ho menyandarkan kapal dan armadanya. Di tempat itu juga Cheng Ho mendirikan sebuah masjid dan kelenteng yang masih aktif dikunjungi masyarakat dan diberi nama Kelenteng Sam Po Kong yang berarti Gedung Batu.

Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I) tiba-tiba ditempatkan sebagai penyebar agama Islam oleh Kerajaan Demak pada akhir-akhir abad ke-15. Ketika masa Made Panda tiba, daerah Pragota tempat ia berdakwah menjadi semakin subur seiring dengan berjalannya waktu. Pada masa kesuburan inilah muncul sebuah pohon asam yang warnanya seperti arang, yang oleh masyarakat Jawa disebut Asem Arang, dan hal ini yang menjadikan Pragota berubah nama menjadi Semarang meskipun awalnya hanya menjadi gelar atau nama panggilan bagi daerah tersebut. Pendiri desa pertama daerah tersebut, Made Pandan diberi gelar Kyai Ageng Pandan Arang I dan dibuat sebagai kepala daerah. Ketika ia wafat, kepemimpinan berpindah tangan kepada putranya, dan diberi gelar Pandan Arang II dan nantinya mendapatkan gelar-gelar lain seperti Sunan Bayat, Ki Ageng Pandanaran, Sunan Pandanaran II, atau bahkan hanya Sunan Pandanaran.

Perkembangan Semarang pada masa pemerintahan Pandan Arang II mulai menunjukkan perubahan yang sangat drastis, dan perubahan ini menarik perhatian salah satu petinggi Pajang, yaitu Sultan Hadiwijaya. Mengingat daerah Semarang tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk peningkatan daerah. Semarang kemudian diputuskan berubah menjadi Kabupaten pada tanggal 2 Mei tahun 1547 yang kebetulan pada waktu itu bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad. Pengesahan daerah ini menjadi Kabupaten dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya setelah sebelumnya melewati konsultasi panjang kepada Sunan Kalijaga, dimana kemudian tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai hari berdirinya kota Semarang.

Pada tahun 1678, Amangkurat II yang berasal dari Mataram berjanji untuk memberikan Semarang kepada pihak VOC. Perjanjian ini dibuat oleh Amangkurat untuk membayar hutang-hutangnya. Hingga ditahun 1705, akhirnya Semarang benar-benar diserahkan kepada pihak VOC sebagai imbalan setelah mereka membantu Pakubuwono I merebut Kartasutra. Mulai masa itu Semarang menjadi kota milik VOC yang kemudian berpindah tangan kepada pemerintah Hindia-Belanda. Pada tahun 1906 melalui Stanblat no. 120 dibentuklah pemerintahan kota besar dengan Burgemeester sebagai pemimpinnya, ia masih terus mengikuti Belanda sebelum kepemimpinannya berakhir pada tahun 1942 dikarenakan Jepang tiba di Indonesia.

Kebijakan yang telah diterapkan oleh Kota Semarang akhirnya berganti setelah kependudukan Jepang di Indonesia dimulai, sebab oleh Jepang pimpinan daerah diubah menjadi dibawah pimpinan pihak militer Jepang (Shico) yang didampingi dua wakil (Fuku Shico) dimana salah satunya adalah orang Jepang dan yang lainnya adalah orang Indonesia. Beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan terjadi, tepatnya pada tanggal 15 hingga 20 Oktober tahun 1945, beberapa tentara Jepang yang ada di Semarang bersikeras tidak mau memberikan kontrol akan kota tersebut kepada pasukan kemerdekaan. Akhirnya perang yang memperoleh sebutan Pertempuran Lima Hari ini memakan beberapa korban, dimana salah satu yang tewas adalah seorang dokter muda berbakat yang bernama dr. Kariadi. Tokoh-tokoh kunci pada perang ini adalah:

  • dr. Kariadi
    Dokter muda yang berniat untuk mengecek cadangan air ketika berhembus kabar bahwa Jepang berencana untuk meracuni air cadangannya. Ia tetap berniat untuk pergi padahal istrinya telah memohon untuk tetap tinggal di rumah.
  • Mr. Wongsonegoro
    Pada masa itu, Mr. Wongsonegoro merupakan Gubernur yang dipilih untuk daerah Jawa Tengah. Beliau sempat ditangkap oleh pasukan Jepang.
  • Dr. Sukaryo & Sudanco Mirza Sidharta
    Mereka berdua merupakan korban lain penangkapan pasukan Jepang, bersamaan dengan Mr. Wongsonegoro.
  • Mayor Kido
    Pemimpin Kidobutai pada masa itu, dimana pusat Kidobutai terletak di Jatingaleh.
  • Kasman Singodimejo
    Perwakilan yang diutus untuk menjembatani gencatan senjata.
  • Jenderal Nakamura
    Jenderal tawanan TKR di Magelang.

Sejarah berdirinya kota Semarang meskipun diwarnai merah darah karena pertempuran 5 hari, tetaplah menjadi bagian sejarah Indonesia. Demi memeringati kejadian tersebut, dibangunlah Tugu Muda yang diharapkan berperan sebagai pengingat kepada masyarakat Semarang tentang kejadian perang di masa lalu. Tugu ini dibangun pada tanggal 10 November 1950 dan diresmikan pada 20 Mei 1953.

 
No Comments

Posted in Uncategorized

 

Sejarah Tari Barong Bali

26 Sep

Sejarah Tari Barong Bali

Tari Barong Bali merupakan satu dari begitu banyak bentuk seni yang ada di Bali. Tarian Barong ialah sebuah tari tradisional yang biasa ditandai dengan adanya topeng hewan berkaki empat yang besar dan kostumnya dikenakan oleh satu hingga dua orang. Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu dan bercerita tentang hal paling klise, yaitu pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Meskipun biasanya Barong digambarkan sebagai seekor macan atau singa, banyak juga jenis-jenis Barong lainnya seperti Barong Keket, Babi, dan Landung. Keket sendiri adalah lembu yang oleh masyarakat Bali dikenal sebagai Raja Hutan dengan nama Banaspati Raja.

Sejarah Tari Barong Bali

Asal Usul Tari Barong
Kata “barong” dipercaya muncul dari kata bahrwang yang secara bebas dapat diartikan sebagai beruang. Beruang ini dipercaya sebagai sebuah kekuatan mistis, hewan mitos yang memiliki kekuatan gaib tinggi sehingga dipuja sebagai pelindung. Beberapa sumber mengatakan bahwa sejarah tari Barong Bali merupakan saduran dari cerita masyarakat Tiongkok yaitu Barongsai, sementara beberapa orang lainnya menganggap ada perbedaan yang sangat jelas antara Barongsai dan Barong dimana menurut mereka tarian Barong memiliki nilai cerita yang baik serta tidak jarang diselingi oleh humor yang segar sehingga dapat menjaga penonton agar tidak bosan. Tarian Barong ini menceritakan tentang kisah yang paling sering diceritakan dalam cerita rakyat manapun yaitu tentang pertempuran antara pihak baik melawan pihak jahat. Sepanjang sejarah tari Barong Bali, pihak yang baik selalu digambarkan dengan sosok Barong, makhluk buas berkaki empat yang di dalamnya dikendalikan oleh dua orang penari. Pihak jahat juga selalu digambarkan dengan sama, yaitu Rangda, sebuah sosok mirip wanita menyeramkan yang memiliki dua buah taring besar di mulutnya.

Ada pandangan yang berbeda tentang sejarah tari Barong Bali ini, dimana salah satu pandangan menyatakan bahwa tari Barong merupakan sebuah seni yang sudah sejak lama ada di Indonesia, sebuah kesenian bawaan dari masyarakat Austronesia. Pandangan ini juga memberitakan bahwa kisah yang dimainkan dalam tari Barong merupakan kisah tentang Bhatara Pancering Jagat dan istrinya yang bernama Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Pandangan lainnya tentang Barong muncul dari itihasa Bali dimana tari Barong muncul dari cerita suci dan bukan dongeng. Dipercaya kisah tentang Barong dan Rangda ini berkaitan dengan cerita ketika Siwa mencari Dewi Uma.

Kali pertama dalam sejarahnya tari Barong Bali dijadikan pertunjukkan adalah pada abad ke-19 dimana pada saat itu Raja Kelungkung yang memiliki nama atau julukan Ida I Dewi Agung Sakti meminta diadakannya pertunjukkan yang bentuknya adalah wayang orang dengan total penari sekitar 36 orang dimana sebagian dari penari tadi harus berperan sebagai pasukan dari seekor raja kera dan sebagian lagi berperan sebagai pasukan rahwana. Para penari ini kemudian diharuskan mengenakan topeng dan busana yang terbuat dari serat yang bernama braksok. Saking populernya, pertunjukkan tersebut kemudian diberi nama Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan yang jika berkunjung ke suatu desa, diyakini pohon kelapa yang ada di desa tersebut menjadi amat sangat subur.

Jenis-Jenis Barong dan Rangda Dalam Tari Barong Bali
Dalam pengaplikasian dan perkembangan tari Barong Bali, ada beberapa jenis topeng yang dikenakan oleh penari utama. Yang paling sering dipentaskan adalah Barong Ket, sebuah tarian yang wujudnya nampak seperti perpaduan antara singa, macan, dan sapi. Badan dari Barong ini memiliki hiasan ukir yang terbuat dari kulit dan ditempeli cermin sehingga nampak berkilau. Bulu-bulu yang ada di badan Barong Keket ini juga terbuat dari perasok, serat dari daun yang mirip dengan pandan, ijuk, bahkan tak jarang terbuat dari bulu milik burung gagak.

Barong berwujud hewan kedua, dalam sejarahnya dikenal dengan nama Barong Bangkal yang terkadang disebut juga Barong Celeng. Sesuai namanya, Barong ini memiliki bentuk yang menyerupai seekor bangkal atau bangkung, seekor babi besar yang umurnya sudah tua. Barong jenis ini biasa dipentaskan pada hari-hari keramat dengan cara dibawa berkeliling desa.

Jenis Barong hewan yang terakhir ialah Barong Macan yang sesuai namanya, berwujud macan. Salah satu jenis Barong yang terkenal baik oleh kalangan masyarakat Bali maupun masyarakat luar Bali. Biasa dipentaskan dengan cara diarak mengelilingi desa dan dilengkapi macam-macam peralatan drama seperti gamelan dan lainnya.

Jenis barong yang lain ialah Barong Landung yang tidak lagi berbentuk hewan dan lebih mirip seperti Ondel-ondel Jakarta. Cerita yang meliputi Barong Landung ialah Barong ini merupakan penggambaran dari Raja Kerajaan Bali yang bernama Jaya Pangus dimana ia mempersunting seorang putri Tiongkok bernama Kang Cing Wei. Cerita dalam pementasan Barong Landung berpusat pada bagaimana pernikahan antara kedua manusia tadi tidak direstui oleh para dewa karena Jaya Pangus dinilai telah melanggar adat dan ketika tidak dapat memiliki keturunan ia pergi menemui Dewi Danu dan dijadikan properti milik Dewi tersebut sehingga terjadi pertikaian antara istrinya dengan sang Dewi.

Selain Barong, pihak lain dalam kisah Barong adalah Rangda yang digambarkan sebagai ratu dari para leak yang ada. Rangda digambarkan sering menculik dan memangsa anak-anak kecil dan memimpin sepasukan penyihir jahat untuk membasmi Barong. Layaknya Barong, ada beberapa jenis Rangda yang ada dan yang pertama adalah Rangda Nyinga yang berbentuk seperti singa dan mulutnya sedikit menonjol untuk menggambarkan bahwa Rangda tersebut memiliki sifat buas seperti singa. Jenis kedua ialah Rangda Nyeleme yang wajahnya mirip dengan manusia demi menandakan bahwa Rangda tersebut berwibawa. Jenis Rangda terakhir ialah Rangda Raksasa yang merupakan gambaran Rangda pada umumnya. Jenis-jenis Rangda ini menambah variasi dalam penceritaan sejarah tari Barong Bali.

 
No Comments

Posted in Uncategorized

 

Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila di Jakarta

25 Sep

Awal sejarah berdirinya gedung Pancasila di Jakarta bermula sekitar tahun 1830 dan gedung ini didesain oleh J. Tromp. Awalnya, gedung ini dibangun sebagai rumah bagi Hertog Bernhard dan nantinya menjadi tempat tinggal dari komandan tentara kerajaan Belanda. Dan gedung ini juga berberguna sebagai tempat dilakukannya pertemuan oleh Volksraad (Dewan Rakyat), sebuah dewan yang diprakarsai oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama Gubernur Jendral J.P. van Limburg Stirum dan Thomas Bastiaan Pleyte yang menjadi menteri urusan koloni Belanda pada waktu itu. Beberapa sumber juga menyatakan bahwa gedung ini merupakan tempat dari Raad van Indie.

Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila di Jakarta

Sejarah Gedung Pancasila yang Dulu Bernama Gedung Volksraad
Ketika pemerintah kolonial Hindia-Belanda masih menancapkan taring mereka di Indonesia, di Jakarta terutama di Taman Pejambon dan Lapangan Banteng banyak didirikan gedung pemerintahan. Dari seluruh gedung yang dibangun, salah satunya adalah gedung Pancasila yang dulu diberi nama gedung Volksraad di Jalan Pejambon nomor 6. Memang, tidak ada catatan jelas tentang sejarah asal usul berdirinya gedung Pancasila. Namun begitu, ada beberapa literatur ilmiah yang mengatakan bahwa gedung ini mulai dibangun sekitar tahun 1830. Awalnya, gedung ini dibangun sebagai rumah tinggal bagi komandan tentara kerajaan Belanda, dimana ia juga merangkap sebagai Letnan Gubernur Jendral. Jika kita berjalan ke arah timur dari gedung ini, kita bisa menemui gereja Immanuel, benteng Pangeran Frederick, stasiun Gambir, dan pengadilan tinggi.

Sebelum gedung Volksraad dibangun, komandan tentara kerajaan Belanda tersebut tinggal di tempat yang sekarang telah menjadi gereja Katedral. Rumahnya ia jual kepada yayasan gereja Katolik seharga 20.000 gulden dan tercatat dalam surat keputusan tanggal 5 Desember 1828. Rumah tersebut kemudian oleh pihak gereja dibongkar dan didirikan sebuah gereja megah. Entah karena apa, gedung ini tiba-tiba roboh pada 9 April 1880, dimana akhirnya sebuah gereja katedral dibangun untuk menggantikan gereja yang runtuh tadi. Gereja katedral ini kemudian diresmikan sepuluh tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1901. Dijualnya rumah tersebut berarti sang komandan membutuhkan rumah baru, dimana akhirnya diputuskan untuk mendirikan rumahnya di atas taman yang nantinya dikenal dengan nama Taman Hertog. Nama untuk taman ini sendiri diambil dari nama Panglima Belanda periode 1848 hingga 1851 yang bernama Hertog van Saksen Weimar. Taman ini nantinya akan kembali berganti nama menjadi taman Pejambon.

Gedung Volksraad yang menjadi gedung kediaman komandan Belanda tadi sebelum ia dipindah tugaskan ke Bandung pada tahun 1916 dinilai cukup memadai jika dialih fungsikan menjadi gedung sidang bagi Dewan Rakyat. Bagian baru dalamsejarah berdirinya gedung Pancasila di Jakarta kembali tercatat ketika gedung ini akhirnya diresmikan oleh Gubernur Jendral Limburg Stirum sebagai gedung Volksraad pada Mei tahun 1918. Jika melihat katalog pameran dalam acara peringatan hari ulang tahun ke-300 Batavia, dapat ditemukan catatan bahwa Volksraad juga pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan anggota Dewan Hindia-Belanda (Raad van Indie). Pemerintah Hindia-Belanda kemudian membangun gedung baru untuk Raad van Indie tepat di sebelah barat gedung Volksraad, yaitu di Jl. Pejambon no. 2.

Pada suatu masa, jumlah anggota Volksraad secara keseluruhan pernah ada yang mencapai titik 60 orang dimana 30 dari jumlah tersebut adalah wakil rakyat Indonesia yang 19 darinya dipilih langsung, 25 orang bangsa Belanda, 4 orang sebagai perwakilan dari masyarakat golongan keturunan Tionghoa, dan satu diantaranya adalah seorang yang menjadi perwakilan keturunan Arab. Per tahun, diadakan dua kali sidang di gedung Volksraad ini, dimana sidang pertama selalu diadakan pada tanggal 15 Mei sementara sidang kedua dilaksanakan pada hari Selasa di minggu ketiga bulan Oktober. Untuk waktu yang dibutuhkan bagi sidang tersebut untuk berjalan adalah empat setengah bulan. Dalam jangka waktu 14 tahun sejak dibuat pada tahun 1927, Volksraad hanya dapat mengajukan 6 rancangan, dan hanya 3 yang diterima oleh pemerintahan kolonial pada masa itu. Hasil tersebut juga dicapai ketika tiga anggota Volksraad berkata bahwa sepanjang sejarah Volksraad berdiri, hampir tidak ada hasil yang bisa mereka capai sama sekali.

Sejarah berdirinya gedung Pancasila kembali memasuki babak baru ketika Cho Sangi-in dibuat sebagai badan yang memiliki tugas untuk memberikan masukan-masukan dan pertimbangan kepada para pemerintah, dan mereka juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemerintah jika terkait soal politik. Jumlah total anggota badan ini ada 43 Orang, dimana 23 merupakan orang pilihan, 18 orang utusan dari tiap keresidenan dan Batavia, dan 2 orang utusan dari Yogyakarta dan Surakarta. Kembali dipergunakan gedung Volksraad ini sebagai tempat sidang dari badan pertimbangan yang dibuat oleh Jepang ini, dan nama gedung ini menjadi lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Gedung Cho Sangi In. Pada tanggal 16 hingga 20 Oktober tahun 1943, dibentuklah 4 Komisi yang tugasnya adalah untuk menjawab pertanyaan dari Saikou Shikikan untuk memenangkan perang Pasifik.

Sejarah berdirinya gedung Pancasila di Jakarta akhirnya mendapatkan namanya ketika Jepang mulai mengalami kekalahan dalam perang Pasifik dimana mereka akhirnya membuat Dokuritsu Junbi Chosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI). BPUPKI kemudian kembali menggunakan gedung Volksraad sebagai tempat mereka mengadakan sidang-sidang. Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mulai melayangkan kritik kepada BPUPKI karena mereka seperti tidak ada niatan merancang kemerdekaan Indonesia. Baru setelah itu, BPUPKI mulai bekerja keras dan akhirnya melakukan sidang tentang apa yang akan menjadi dasar Negara Indonesia. Karena rapat tersebut menghasilkan bentuk awal dari Pancasila, maka gedung tersebut yang menjadi tempat kelahiran Pancasila, diubah lagi namanya menjadi Gedung Pancasila.

 
No Comments

Posted in Uncategorized

 

Asal Usul Suku Jawa Dalam Sejarah

24 Sep

Asal Usul Suku Jawa Dalam Sejarah

Suku Jawa merupakan suku dengan jumlah populasi terbanyak (sekitar 100 juta orang menurut data tahun 2011) di Indonesia berawal layaknya kelompok etnis Indonesia, kebanyakan termasuk masyarakat Sunda yang ada di Jawa Barat. Nenek moyang masyarakat Jawa adalah orang purba yang berasal dari Austronesia, sebuah spesies yang diperkirakan berasal dari sekitaran Taiwan dan bermigrasi melewati Filipina sebelum akhirnya tiba di pulau Jawa pada tahun 1.500 dan 1.000 sebelum masehi. Suku etnis Jawa memiliki banyak sub-etnis seperti misalnya orang Mataram, orang Cirebon, Osing, Tengger, Boya, Samin, Naga, Banyumasan, dan masih banyak lagi. Dewasa ini, mayoritas suku Jawa memproklamirkan diri mereka sebagai orang Muslim dan minoritasnya sebagai Kristen dan Hindu. Terlepas dari agama yang mereka anut, peradaban suku Jawa tidak pernah bisa dilepaskan dari interaksi mereka terhadap animisme asli yang bernama Kejawen yang telah berjalan selama lebih dari satu milenium, dan pengaruh kejawen tersebut juga masih banyak bisa kita temui dalam sejarah Jawa, kultur, tradisi, dan bidang seni lainnya.

Suku Jawa di Masa Hindu-Budha dan Islam
Jika membahas asal usul suku Jawa tidaklah jauh berbeda dengan asal usul orang Indonesia secara keseluruhan, yaitu pada saat ditemukannya fosil dari Homo erectus yang juga dikenal dengan nama “Manusia Jawa” oleh Eugene Dubois, seorang ahli anatomi Belanda pada tahun 1891 di Trinil. Fosil Homo erectus yang berhasil ditemukan, diperkirakan memiliki umur yang sudah luar biasa tua yaitu sekitar 700.000 tahun, menjadikannya salah satu spesies manusia kuno yang bisa ditemukan pada saat itu. Tidak berapa lama, di Sangiran juga ditemukan kembali fosil lainnya dari spesies yang sama pada tahun 1930 oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang menemukan perkakas yang kelihatannya jauh lebih maju dibanding perkakas pada era sebelumnya dan umur dari peralatan-peralatan yang berhasil mereka temukan diperkirakan adalah 550.000 hingga 143.000 tahun.

Kepercayaan utama yang dianut oleh suku Jawa adalah animisme dan terus berlanjut seperti itu hingga akhirnya dai-dai Hindu dan Budha tiba ke Indonesia yang bermula dengan terjadinya kontak dagang dengan subkontinen India. Yang membuat masyarakat Jawa tertarik menganut agama-agama baru ini adalah karena mereka mampu menyatu dengan filosofi lokal Jawa yang unik. Tempat berkumpulnya kultur suku Jawa adalah Kedu dan Kewu yang ada di lereng Gunung Merapi sebagai jantung dari Kerajaan Medang i Bhumi Mataram. Beberapa dinasti-dinasti kuno seperti misalnya Sanjaya dan Syailendra juga menggunakan tempat tersebut sebagai pusat kekuatan mereka. Ketika Mpu Sendok memerintah, ibu kota kerajaan dipindahkan ke dekat Sungai Brantas pada abad 10, hal ini juga menyebabkan pergeseran pusat kebudayaan dan politik suku Jawa. Dipercaya perpindahan ini disebabkan oleh erupsi vulkanik gunung Merapi, tapi ada juga yang menganggap bahwa perpindahan ini disebabkan oleh serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Perkembangan suku Jawa mulai menjadi signifikan ketika Kertanegara memerintah Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Raja yang senang memperluas wilayahnya ini melakukan beberapa ekspedisi besar seperti misalnya ke Madura, Bali, Kalimantan, dan yang paling penting adalah ke pulau Sumatra. Akhirnya, Singasari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka menyusul kekalahan kerajaan Melayu. Dominasi kerajaan Singasari berhenti di tahun 1292 ketika terjadi pemberontakan oleh Jayakatwang yang berhasil mengakhiri hidup Kertanegara, dan Jayakatwang kembali dibunuh oleh Raden Wijaya yang merupakan anak dari Kertanegara. Nantinya, Raden Wijaya akan mendirikan Majapahit, salah satu kerajaan yang terbesar di Nusantara pada masa itu.

Ketika Majapahit mengalami banyak permasalahan tentang siapa yang menjadi penerus, beberapa perang sipil terjadi dan membuat Majapahit kehilangan kekuatan mereka sendiri. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa juga mulai berubah dengan berkembangnya Islam, dan keruntuhan Majapahit ini menjadi momentum bagi kesultanan Demak untuk menjadi kerajaan yang paling kuat. Kesultanan Demak ini nantinya juga memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan kolonial Portugis yang datang. Dua kali Demak menyerang Portugis ketika para kaum Portugis menundukkan Malaka. Demak juga dikenal dengan keberanian mereka menyerang aliansi Portugis dan Kerajaan Sunda. Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang dan Kesultanan Mataram, dan perubahan ini juga memaksa pusat kekuatan berpindah dari awalnya ada di pesisir Demak menuju Pajang di Blora, dan akhirnya pindah lagi ke Mataram tepatnya di Kotagede yang ada di dekat Yogyakarta sekarang ini.

Awal Migrasi Suku Jawa
Suku Jawa sendiri diperkirakan memiliki kaitan dengan migrasi penduduk Austronesia menuju Madagaskar pada abad pertama. Meski memang kultur utama dari migrasi ini lebih dekat dengan suku Ma’anyan di Kalimantan, beberapa bagian dari bahasa Malagasy sendiri diambil dari bahasa Jawa. Ratusan tahun setelahnya ketika periode kerajaan Hindu tiba, banyak saudagar Jawa yang bermukim di tempat-tempat lain di Nusantara. Pada akhir abad ke-15 menyusul runtuhnya Majapahit dan berkembangnya Muslim di pantai utara Jawa, banyak orang-orang Hindu dari Jawa yang bermigrasi ke Bali dan berperan dalam majunya kultur Bali.

Selain di dalam negeri, suku Jawa juga muncul di semenanjung Malaya sejak lama. Hubungan antara Malaka dan Jawa sendiri merupakan sebuah hal penting yang berperan besar dalam berkembangnya Islam di Indonesia karena banyak misionaris Islam yang dikirim dari Malaka ke beberapa daerah perdagangan di pantai utara Jawa. Migrasi-migrasi ini memperluas ruang lingkup yang harus ditelaah ketika para sejarawan menyelidiki jejak asal usul suku Jawa dalam sejarah.

 
No Comments

Posted in Uncategorized